Yang Kukenang Saat Makassar Dikepung Genangan


Beberapa hari, Makassar kuyup diguyur hujan. Tanah basah, jemuran tak kering, air betah bertahan di lorong-lorong, pun pada jalan-jalan protokol di pusat kota. Bahkan, di pinggiran kota, bah tak hanya merendam areal tanah kosong, mereka pun bertamu ke rumah warga, bersama kutu, sampah-sampah plastik, dan juga lumpur.

Perahu karet menjadi kendaraan favorit, orang-orang berseragam orange ataupun loreng hijau, menjadi nakhoda yang dengan lihai mengantar jemput penumpang. Meski mereka menggunakan istilah yang sedikit berbeda, evakuasi (bukan transportasi), tapi intinya sama saja: perpindahan penduduk.

Tak ketinggalan, para pesohor di dunia politik, terutama mereka yang akan ikut kontestasi pada pemilihan Makassar Idol –eh Pemilihan Walikota Makassar, seakan tak mau ketinggalan hadir di tengah bencana. Beragam argumen melatari munculnya mereka yang bermuara pada klaim keikhlasan nir pencitraan. Yang pasti warga yang terendam menjadi pelengkap dalam frame kamera para jurnalis.

Warga dengan hati lembap dan tatapan mata tak rela, mesti meninggalkan rumahnya yang ditongkrongi genangan. Mungkin mereka punya bertumpuk kenangan di sana, namun karena air yang melembak tak bisa diajak kompromi, warga harus rela kenangan yang mengempoh, bergumul dengan genangan.

Perihal genangan yang tiba-tiba tenar di warga Makassar tiap hujan menderas itu, aku punya kenangan yang tak pernah berhasil kutampik dari benak. Akhir 90an, dengan berbagai pertimbangan, aku menjadi warga di BTN CV. Dewi –perumahan di bilangan jalan Abdullah Daeng Sirua yang tak pernah berhasil kuingat namanya.

Di perumahan itulah aku berkenalan dengan ganasnya banjir di Makassar. Tak tanggung-tanggung, pernah aku tak keluar rumah selama sepekan, karena di dalam rumah dan juga jalanan kompleks menjelma menjadi lautan. Sejauh mata memandang, hanya air keruh yang memenuhi retina. Kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan, bukan?

Beruntung, rumah yang kutinggali punya tiga kamar tidur di lantai atas, jadi kami seperti pelesir di pulau nan cantik. Suasana pun lumayan ramai, sebab di loteng, kami harus berbagi ruang dengan dua keluarga tetangga yang rumahnya tenggelam. Setiap keluarga, menempati satu kamar. Banjir membuat kami kian rukun dengan jiran, sebuah hikmah kehidupan yang tak ternilai.

Tapi kenanganku perihal Makassar dan genangan, kian utuh bila dikaitkan dengan kawasan Mallengkeri. Hidup di daerah itu kucecap saat baru sebulan aku menjejakkan kaki di kota yang mulai tak ramah ini, di akhir 1997. Sebagai mahasiswa baru dari kampung yang hanya mengingat dengan samar soal Makassar berdasarkan pengalaman sepuluh tahun sebelumnya di kota ini, Makassar tetap saja kota yang asing namun menawan.

Saat itu, aku menumpang di rumah kakek di bilangan Kompleks PDAM di Mallengkeri Luar, dekat dari tempat tinggalku sekarang. Aku ingat betul, rumah masih bisa dihitung jari, bahkan bersama anak muda di situ, aku masih bisa menikmati bermain bola plastik saban sore di tengah rawa kering, bila cuaca cerah. Sebuah anugrah bagi masa muda yang tak terukur dan kemewahan bagi warga yang kotanya kian bertumbuh.

Dua puluh tahun bukan lintasan waktu yang pintas. Hari ini, rawa kering yang menjadi lapangan bola kami dulu, telah penuh dengan rumah tinggal dan rumah toko milik warga. Sebagian lagi menjelma menjadi petak-petak kamar kontrakan mahasiswa dari berbagai kelas sosial, mulai dari yang berdinding seng, hingga yang berpendingin ruangan dan kamar mandi pribadi.

Lalu di mana kenanganku akan genangan? Beberapa hari terakhir. Saat air mengguyur deras, sekeliling rumah terendam. Jalanan di samping kanan rumah, menjelma menjadi kolam renang gratis para bocah penghuni pinggiran selatan Makassar. Aku jadi teringat dua puluh tahun lalu saat genangan itu terkanalisasi di rawa-rawa, tempat kami main bola, tak ada genangan liar nan nakal yang mencoba melintas jalan dan bertamu ke rumah warga.

Alangkah eloknya bila kawasan rawa-rawa yang masih tersisa ditata dengan baik. Memang tuntutan lahan untuk perumahan bukan hal yang bisa ditolak, tapi perlu disiasati dengan tetap menyisakan lahan rawa untuk dijadikan situ multifungsi. Selain sebagai ruang penampungan air yang melimpah, pinggirannya bisa dipoles menjadi ruang terbuka publik, tempat warga kota berbagi kisah dan merangkai kenangan baru.

Bahkan, keberadaan situ bisa menjadi ruang usaha ekonomi baru bagi warga kota, dengan mengupayakan budi daya air tawar melalui sistem keramba. Pun pemerintah kota bisa menebar bibit ikan tertentu, dan menyiapkan spot pemancingan yang dikelola oleh Badan Usaha Lorong (BULO). Bukankah menarik bila ada lokasi wisata memancing yang memadai di tengah kota?

Selain itu, perlu juga dipikirkan untuk mendorong warga membuat sumur resapan berbasis lorong –unit kecil masyarakat yang menjadi basis pembangunan pemerintah kota beberapa tahun terakhir. Selain untuk mengantisipasi genangan air hujan yang berlebih, juga untuk menjaga cadangan air tanah di musim kemarau. Bukankah Makassar juga sering mengalami masalah air bersih bila hujan jarang bertandang?

Semangat memberdayakan lorong haruslah berbasis pada problem mendasar masyarakat, bukan berdasarkan pada obsesi dan hasrat menggebu dari pemerintah kota saja. Program Lorong Garden, Badan Usaha Lorong, dan Lorong Singara’ tentu merupakan artefak pembangunan untuk memenuhi keinginan pemerintah kota memoles Makassar agar layak disebut kota dunia. Tapi apakah itu menjawab problem bajir di musim penghujan dan kelangkaan air bersih di musim kemarau?

Perlu ada pemikiran serius dalam mengelola lorong yang bukan sekadar dekoratif dan polesan artifisial. Sebab bila tidak, meskipun lorong akan benderang dengan Lorong Singara’, menghijau dengan Lorong Garden, tetap akan menjelma menjadi Lorong Swimming Poll bila tak ada upaya serius menanganinya. Atau jangan-jangan di alam bawah sadar kita memang mengendap hasrat mewujudkan Makassar Water Park? Entahlah.

Hujan masih menitis dari atap, meski tak sedahsyat kemarin. Selepas subuh, aku memilih bersembunyi di balik selimut, lagi. Kembali aku terkenang saat bah melintas di BTN CV. Dewi. Motor diungsikan ke area dapur yang lebih tinggi dari ruang tamu, itupun masih diangkat ke atas meja makan, agar mesinnya tak terendam. Lalu kami, berkerumun di lantai atas, satu-satunya arah yang tak tergenang.

Mau tahu mengapa kenangan itu tak bisa kuhapus? Sebab di situlah aku bisa berkenalan dengan anak gadis tetangga yang ikut menumpang di kediaman kami. Ada lesung di bilah pipinya, pandai memasak mi instan, dan rajin menghidangkan kopi lalu duduk di depanku tanpa ekspresi sambil menatap air yang menjarah rumahnya di bawah sana.

Kenangan itu meluber di ingatanku setiap kali Makassar direndam genangan. Entah di mana dia sekarang.

Sumber ilustrasi: RiauJos