‘Tetapkan 2 Desember Hari Tolak Bala Bencana Fitnah Kota Makassar!’


Ilustrasi Fitnah
Ilustrasi Fitnah (sumber gambar : kompas)

Oleh : Arman Zul Asman

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang sangat pedih.” (QS. al-Buruj: 10).

 

MakassarBicara.com-Semua orang sepakat fitnah sangat kejam. Tindakan yang disetarakan dengan pembunuhan. Fitnah kerap dilakukan oleh orang-orang dzalim demi memuluskan keinginannya. Dalam film Payitaht Sultan Abdul Hamid II, fitnah dilancarkan oleh orang-orang yeng memusuhi negara dan pemerintahan sultan demi meruntuhkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid.

Demi memuluskan fitnah dan meyakinkan rakyat, kaum-kaum dzalim ini menggunakan surat kabar untuk menyebarkan berita hoaks. Salah satu fitnah yang dibicarakan dalam film tersebut adalah tindakan seorang tokoh perempuan Gertrude Bell yang mendirikan sekolah bagi pemuda arab. Dalam sekolah tersebut, Gertrude Bell berdalih ingin mengumpulkan hadits-hadist palsu agar dapat diketahui masyarakat, sebagai upaya edukasi hadits palsu katanya. Pemuda arab yang ditugaskan kemudian mengumpulkan hadits palsu yang beredar di tengah masyarakat. Alih-alih ingin menerbitkan hadits palsu tersebut sebagai bahan pelajaran, Gertrude Bell malah menggabungkan hadits shahih dan hadist palsu dalam satu buku.

Sultan yang mendapatkan salinan hadits shahih dan palsu bercampur dalam satu buku, dan berpotensi menyesatkan masyarakat, memerintahkan membakar kumpulan hadits tersebut. Surat kabar yang telah dibeli, oleh Gertrude Bell telah siap siaga mengambil gambar  utusan sultan membakar buku hadits. Dan, gambar pun didapatkan. Surat kabar membicarakan pembakaran hadits tersebut, sultan terpojok, ulama meradang mendesak sultan angkat bicara atau menghukum utusan yang telah membakar kumpulan hadits.

Beginilah fitnah itu meluncur ibarat peluru. Kejam tapi yang melemparkan isu fitnah itu malah tertawa dan berkata “kami berhasil”, “kredibilitasnya menurun”, “inilah politik”.

Seperti tulisan sebelumnya, lagi-lagi penggambaran film Payitaht ini tak ingin mensejajarkan Danny Pomanto dengan Sultan Abdul Hamid. Hanya penggambaran bagaimana fitnah itu melesat. Jadi jangan bikin hoaks pangkat dua.

Ceritanya begini, Rabu (2/12/2020) lalu. Danny Pomanto menghadiri undangan Gerakan Masyarakat Sanata Dharma Nusantara (Gema Sadhana). Danny layaknya pemimpin yang merangkul semua kalangan pada umumnya, tentu memenuhi undangan tersebut. Lalu salah satu rangkaian acara tersebut berdasarkan keyakinan pihak penyelenggara, dilaksakanlah doa tolak bala atau pelepasan bala di Sungai Jeneberang, Kecamatan Tamalate, Makassar.

Danny Pomanto yang sedari awal menghadiri acara tersebut, tentu saja harus mengikuti rangkaian kegiatan sebagai bentuk penghormatan atas pelaksana kegiatan. Itu adalah hal yang lumrah. Tak lumrah adalah, ketika salah satu foto tiba-tiba beredar tanpa penjelasan dengan keterangan gambar, “jangan memilih pemimpin musyrik”.

Lah, yang musyrik siapa tuan-tuan? Danny hanya menghadiri undangan, pelaksana melakukan hal-hal yang diyakini. Lantas tuan-tuan menghakimi siapa? Sekiranya Danny Pomanto betul-betul ingin menggelar tolak bala, maka lebih bagus ini dikonsolidasikan serentak di setiap pesisir yang ada di Kota Makassar. Semua tim dan simpatisan diundang serentak dan besar-besaran agar melepaskan bala bencana fitnah di laut. Hal ini mudah dilakukan, misalnya start dari kediamannya di Jalan Amirullah, lalu berpencar ada yang ke Paotere, ada yang ke Losari, ada yang ke Tanjung Bunga, ada yang ke Kayu Bangkoa, bahkan yang di pulau-pulau juga melakukannya secara serentak. 2 Desember 2020 ditetapkan sebagai hari tolak bala bencana fitnah se Kota Makassar. Begitu lebih keren kan, wahai para pemfitnah.

Karena badai fitnah telah berhembus jauh, maka tak heran Da’i muda milenial, Ustadz Azhar Tamanggong berkomentar di media. Katanya beliau menyayangkan keikutsertaan Danny Pomanto, dalam acara pelepasan bala tersebut. Menurutnya, sebagai seorang muslim, harusnya Danny tahu dan paham bahwa acara tolak bala yang tidak sesuai syariat tidak dibenarkan dalam agama Islam.

Dai kondang ini berkata, kehadiran Danny mengikuti acara tolak bala patut membuat warga Makassar, khususnya umat Islam berpikir ulang terkait pilihannya pada Pilwalkot Makassar 2020. Tentunya muslim di Makassar menginginkan pemimpin yang tidak hanya peduli terkait bidang keagamaan, tapi juga paham agamanya dan patut dicontoh.

Rupanya dai kondang ini masih perlu banyak belajar dari Dai yang dikenal di kalangan santri pondok pesantren Uztads Iqbal Djalil. Uztads Ije, sapannya, tidak mempersoalkan kehdiaran Danny pada acara tersebut. Menurutnya, sebagai pemimpin berinteraksi dengan semua pihak adalah sebuah keharusan.

“Sebagai umat Islam, sebelum, dan saat, serta setelah menjabat sebagai Wali Kota Makassar, Bapak Danny Pomanto banyak bercengkerama dan berkomunikasi dengan para alim ulama dan para ustaz. Tentu beliau sudah sangat paham tentang wilayah akidah dan muamalah atau berkaitan dengan interaksi dengan semua pihak,” kata Ustaz Ije, yang dikutip dari salahsatu media online.

Tak hanya uztads yang berkomentar, jika disimak beberapa media turut ingin menguatkan data bahwa dengan kehadiran Danny di acara tersebut telah mengerus suara dan keterpilihan sang calon. Tak dijelaskan lebih rinci mengapa kehadiran di acara tolak bala dapat mengerus suara. Nyatanya, Anggota Majelis Taklim dari Kecamatan Manggala, Ramlah, mendoakan agar Danny Pomanto bersama Fatmawati bisa terpilih menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar untuk lima tahun ke depan. Emak-emak lainnya di Manggala, Murni, berharap hal serupa. Dia mengaku kepemimpinan Danny Pomanto harus berlanjut.

“Insya Allah Pak Danny menang. Yang benar pasti menang, yakin saya itu. Yang jahat, biar bagaimana usahanya, akan kalah juga akhirnya,” ucap Murni kepada media.

Ya… begitulah fitnah, hanya hebih di kalangannya sendiri. Pemfitnah akan bersama gerombolan tukang fitnah. Orang sabar akan bersama orang-orang sabar, bahkan bersama Tuhan. Ya kan?