Sentimen Politik vs Politik Kerakyatan, Benarkah Danny Pomanto Berbohong?


Danny Pomanto
Danny Pomanto

Oleh : Ahmad Sangkala*

MakassarBicara.com-Pilwalkot Makassar 2020 nyatanya tak hanya soal pertarungan klan bisnis dan  elit Sulsel yang ingin menatap pilgub mendatang. Tetapi juga ada pertarungan masa lalu yang belum tuntas. Hal ini mencuat setelah adanya tayangan youtube Danny Pomanto di chanel youtuber Rijal Jamal yang selanjutnya dijawab  oleh IAS (Ilham Arief Sirajuddin,Mantan Wali Kota Makassar) lewat laman facebooknya.

Berbalas statemen ini sepertinya belum berakhir, bahkan kalangan loyalis  di level akar rumput masih terus memanas. Saling tuduh menuduh pun tak terhindarkan. Hingga beberapa onkum timses kandidat sibuk mengkapitalisasi isu perdebatan tersebut.

Lantas apakah itu produktif?

Sejauh ini, perdebatan ini sepertinya tak produktif. Sebab ada 4 pasang calon yang bertarung. Pola seperti ini biasanya hanya cocok untuk pertarungan head to head. Dengan menghabiskan kandidat yang dimentorinya cenderung terganggu.

Lantas apa awal keributannya?

“Perlu saya luruskan ini  energi untuk saling menyerang hal yang sifatnya personal.  Apa lagi yang dipersoalkan bukan kandidat vs kandidat, tetapi kandidat vs mentor kandidat. Tentu ini membuat citra barang-barang, awalnya Pak Ilham itu tidak dukung saya. Boleh Pak Ilham dengar ini. Jadi saya didesak maju (Pilwakot 2013) bukan Pak Ilham yang desak saya. Akademisi (yang desak maju pilwalkot). Setelah selesai dari para budayawan saya menghadap Pak Ilham. Saya minta izin beliau (IAS) marah. Kenapa kau mau maju, sayakan mau maju gubernur juga. Jadi ini true story nih (fakta),”  ini pernyataan Danny Pomanto yang membuat kontroversi.

Hal ini karena percakapan ini tidak dikutip secara utuh. Padahal pernyataan ini satu kesatuan dengan pernyataan sebelumnya dan setelahnya. Dalam konsep komunikasi, model seperti ini disebut miss informasi.  Ini banyak dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab untuk memprovokasi atau melakukan framming opini.

Berikut lanjutan penjelasannya,

“Saya bilang ada tiga alasan saya ke sini pertama saya penasehat Wali Kota, kita (IAS) Wali Kota. Keempat kita pimpinan partai dan kelima kita sahabat saya. Saya tidak akan pernah susahkan kita karena saya mau (maju Pilwalkot) independen. Jadi saya Independen dulu. Saya tidak mau partai dulu waktu awal 2013. Jadi datang ke Pak Ilham hanya untuk Mappatabe,(minta izin, red) sebagai bawahan?”

“Supaya orang tahu, kan orang bilang kacang lupa kulitnya. Padahal pak Ilham itu saya dukung sejak awal. Waktu kilometer nol-nol saya sama Pak Zulkarnain Arif, waktu beliau mau maju kita support. Pada saat orang tidak ada yang support,”

“Pak Ilham masuk itu (mendukung saya) waktu setelah saya akan mendaftarkan perseorangan. Dibatalkan itu baru dia (IAS) masuk (medukung) karena gara-gara survei,”

Dalam penjelasan ini secara utuh kita ketahui bahwa Danny Pomanto tidak mengatakan tidak dibantu sama sekali. Tetapi diawal tak direstui,  pada saat trend survei meningkat barulah kemudian disupport.

Pada Pilwalkot 2014 lalu, memang tampak IAS awalnya seperti bermain aman. Dimana dalam beberapa kesempatan  menghadiri kampanye kandidat lain, bahkan IAS waktu itu hadir pada deklarasi pasangan Muhyina Muin – Saiful Saleh di Hotel Claro. Belakangan barulah IAS total memenangkan pasangan Danny Pomanto – Syamsu Rizal waktu itu.

Hal lainnya tentu kita patut menggaris bawahi pengakuan IAS soal 17 tahun bersahabat dengan Danny Pomanto. tentu bersahabat itu bukan memiliki hirarki. Tapi semua hubungan sosial yang sejajar, tentu dengan suka duka ditanggung bersama. Sahabat adalah hubungan kekerabatan non pertalian darah yang terdekat. Sehingga hal yang wajar ketika “balas budi” tak bisa sekedar di ukur pada soal dukungan politik semata. Tapi banyak variabel lain.

Salah satu pengakuan Danny Pomanto yakni “saya dukung sejak awal. Waktu kilometer nol-nol saya sama Pak Zulkarnain Arif, waktu beliau mau maju kita support”. Dimana dukungan untuk maju pada kontestasi Pilkada tentu bukan sekedar dukungan politik, tetapi juga butuh dukungan finansial dan jejaring yang kuat. Sebagai sahabat, tentu mereka akan saling membantu selama 2 kali IAS bertarung di Pilwakot Makassar. jikapun memang butuh konfirmasi, kenapa kelompok yang nyinyir belum pernah mengkonfirmasi Zulkarnain Arif sehingga  arus informasi berimbang.

Catatan lainnya tentu, jika dalam etika persahabatan harusnya polemik komposisi  Alat kelengkapan Dewan (AKD) DPRD Makassar tak perlu memunculkan IAS sebagai tokoh sentral. Tetapi harusnya mensupport Danny Pomanto di belakang layar saja.

Terlepas dari hal tersebut, pertarungan politik tentu tak boleh membawa sentimen personal. Karena sejatinya politik adalah jalan untuk mensejahterahkan rakyat. Sehingga arena pertarungan sejatinya adalah pertarungan gagasan. Bukan petarungan ysng sifatnya terbawa sentimen personal yang dibesar – besarkan.

Danny Pomanto tentu sudah memberikan bukti selama satu periode dengan berbagai capaiannya termasuk meraih ratusan penghargaan. Penegasan Danny Pomanto tentang bersama rakyat sepertinya adalah penegasan keberpihakannya bukan pada kepentingan kelompok tertentu  semata, tetapi demi kepentingan rakyat.  Terbukti dengan pemberantasan korupsi di era pemerintahannya semakin massif dan diapreasi banyak kalangan penggiat anti koruspi.

Lantas benarkah Danny Pomanto berbohong?

Bagi Penggiat Anti Korupsi, Djusman AR seperti pernyataannya di edunews.id menegaskan bagi kami penggiat anti korupsi prinsipnya “kalau bersih kenapa risih” Mari kita menanamkan “berani jujur hebat”. Apakah ada yang terbukti terjerat korupsi hingga menjadi penghuni hotel prodeo? dan apakah Danny Pomanto juga terjerat hukum dalam praktek korupsi? Publik harus menilai itu berdasar  pembuktian. Bukan asumsi dan hanya faktor like dislike.

Mari menilai dengan dasar pembuktian, bukan sekadar asumsi apa lagi sentimen. Marilah kita berpolitik sehat. Survei Celebes Research Center (CRC) yang dirilis di Hotel Santika (12/09/2020) menunjukkan bahwa 25,6 persen akan menentukan pilihannya berdasarkan program dan visi misi kandidat. ini peluang besar untuk memassifkan visi dan misi masing – masing.

Satu lagi, survei ini juga menunjukkan bahwa Danny – Fatma memiliki elektabilitas 40,4% sedangkan Deng Ical – dr Fadli yang dimentori IAS masih 14%. mari bertarung sehat. semoga ketertinggalan ini bukan efek sentimen personal yang berlebihan yang membuat publik antipati.