Sang Arsitek Kota Dunia


Danny Pomanto, saat menerima penghargaan sebagai inovator
Danny Pomanto, saat menerima penghargaan sebagai inovator

Oleh : Arman Zul Asman*

Alkisah, seorang arsitek dan konsultan tata ruang ingin menjadi pemimpin di salah satu kota besar di Indonesia. Ratusan karya arsitektur yang tersebar pada puluhan kabupaten/kota di Indonesia. Tak cukup untuk meyakinkan segenap tumpah darah rakyat Makassar.

Sang arsitek yang berangkat dari lorong, namun dapat memandang dunia dalam satu genggaman. Saat restu ilahi bersamanya pada periode pertama, ia membuktikan itu. Digubahnya lorong-lorong yang meratapi kesunyian menjadi warna-warni keramaian. Disulapnya lorong yang gersang menjadi hijau berseri berbuah senyuman tulus. Dihitungnya angka kriminal lalu dibenamkan dalam lorong buntu, lorong gelap menjadi terang.

Ya… namanya arsitek. Tak mungkin tanpa konsep. Lorong nyaris berdaya, oligarki malah mempedaya. Enggan membahas lorong lagi, lalu berbondong-bondong menembak secara berondongan. Sang arsitek gagal tarung merebut kursi periode keduanya.

Mereka bersorak keras di menara kemenangan, tapi lupa ada suara serak yang menentang kalah. Mereka yang telah melihat Makassar telah melangkah menjadi ada di kancah di Internasional. Mereka yang terhibur meski hanya sepekan dalam balutan macetnya pantai losari, lokasi F8.

Tamu-tamu negara asing dan mempertontonkan jati dirinya, bukan hanya soal pagelaran seni dan budaya, bukan hanya itu. Ada yang lebih. Bagi Makassar, kehadiran dan kepercayaan negara yang hadir adalah eksistensi bahwa Makassar sudah berkelas dunia.

Sang arsitek bukan hanya berhasil menangani proyek pemanfaatan hasil lumpur lapindo, pengembangan Teluk Pacitan, pengembangan tata ruang garam di Madura, merevitalisasi lapangan Karebosi, anjungan Pantai Losari, merancang Masjid Terapung, Centerpoint of Indonesia (COI), serta pantai Akkarena.

Tapi juga telah mengarsiteki semangat masyarakat Makassar. Masyarakat yang mentalnya dibangun dari lorong, tapi mata kanannya tajam menatap kutub utara, lalu mata kirinya melirik kutub selatan.

Duh… sepertinya tulisan ini terlalu didramatisir. Tapi, saya masih yakin bahwa yang mengganggap sang arsitek telah gagal juga lebih dramatis dari film-film drama korea. Sutradara selalu membaca naskah berulang-ulang. Jika ingin berfitnah, pikirlah sampai ke tulang.

 

*Penulis adalah pemerhati lorong Makassar