Revolusi Transportasi Ala Danny Pomanto


Desember akhir tahun 2017 lalu, tersiar kabar, Wali Kota Makassar saat itu, Danny Pomanto disambangi oleh salah satu perusahaan dari Swedia. Bule-bule ini datang menawarkan inovasi untuk pengelolaan macet di Makassar.

Erik Jenelius, Si bule dari Swedia itu, berbicara perihal kesemrawutan lalu lintas. Omongan ini berlaku untuk kota Makassar. Erik kala itu berupaya meyakinkan Pemerintah Kota Makassar untuk mengiyakan tawarannya. Entah kini kelanjutannya.

Si bule menawarkan kepada Pemerintah Kota Makassar untuk mengubah beberapa ruas jalan menjadi jalur BRT. Ini juga didukung oleh pemberlakuan sanksi-sanski ekonomi kepada pengendara kendaraan pribadi yang melintas di area jalur BRT yang bebas hambatan itu.

Semua berbasis teknologi ICT.

Sebenarnya, tawaran konsep bule Swedia itu terpikirkan oleh orang-orang kita. Perihal transportasi umum berbasis teknologi. Hanya saja, mungkin benar, pelaksanaan atau aplikasi teknologinya orang kita masih sulit. Ini terbukti, beberapa waktu lalu, Danny Pomanto meluncurkan pete-pete smart. Sayang, pete-pete ini entah rimbanya kini.

Beberapa kali, di media massa, anak buah Wali Kota Danny, Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar juga sudah berbicara, memahami bahwa revolusi transportasi sebuah niscaya untuk jalanan kota ini. Warga harus memilih transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Penataan parkir pun mutlak. Semua memahami itu. Kendalanya di aplikasi.

Hal terberat dari “revolusi jalan” ini adalah mental. Di tengah mudah dan murahnya  akses cicil kendaraan, termasuk mobil, mental masyarakat sulit untuk tidak tergiur. Mental dasarnya memang korban gaya hidup kapitalis. Mental malas dan manja masyarakat takkalah berat untuk dilawan.

Pakar transportasi, Isran Ramly pernah mengatakan, masyarakat Makassar harus mau mengubah cara mengakses transportasinya, setelah perbaikan unit kendaraan umum tentunya. Masyarakat sudah terlalu manja dengan konsep dijemput dan di antar depan rumah. Isran mengatakan, masyarakat harus mau jalan kaki ke titik terminal, satu-satunya titik transportasi umum boleh mengambil dan menurunkan penumpang. Solusi ini lagi-lagi mensyaratkan mental!

Atas dasar itu, dapat dipahami bahwa pelebaran ruas jalan sebenarnya bukan satu-satunya solusi tepat. Tanpa pembaharuan mental, jalan Makassar akan tetap kacau-balau. Nantinya, jika iya, transportasi umum sudah baik, masyarakat harus ikhlas dan sadar menggunakan itu. Tidak seperti BRT Mamminasata yang kini bagai kuburan berjalan.

Sekali lagi, masyarakat juga harus menahan hasrat konsumsinya atas kendaraan pribadi yang dengan segala jurus kapitalis liciknya, berusaha keras memikat. Kalau pun sudah punya, mending memakai transportasi massal. Berat memang, mengubah mental.

Kepada calon kontestan Pemilihan Walikota Makassar, terkhusus kepada Danny Pomanto-Indira yang tampaknya paling banyak memikat simpati masyarakat, sebaiknya tidak hanya berusaha menarik iya warga agar memilih wali kota semata. Dua harapan kota ini, harusnya juga membuat komitmen dengan pendukungnya yang massif untuk revolusi jalanan atau revolusi transportasi yang mensyaratkan mental ini.

Danny-Indira sebaiknya menjalin kesepakatan politik dengan masyarakat yang isinya tidak hanya pemimpin yang berjanji untuk bekerja sementara masyarakat mendukung penuh. Janji dengan masyarakat sebaiknya juga perihal perubahan mental untuk revolusi jalanan ini. Danny-Indira yang telah memikat hati masyarakat tidak sulit diyakini akan sukses jika melakukan ini. Tapi harus tegas, komitmen ini harus aplikatif! Pemerintah nantinya harus benar-benar melakukan revolusi tersebut sementara masyarakat pun mengamininya. Demi Makassar yang bahkan 100 kali lebih baik.