Rektor di “warung kopi”


Makassarbicara.com-Rektor dan warung kopi adalah dua hal yang berbeda. Bahkan keduanya dianggap tabuh jika disandingkan bersamaan. Bagaimana tidak, rektor sangat identik dengan sekaralan dunia kampus yang menjadi benteng independensi dan intelektualitas. Sedangkan warung kopi merupakan ruang dialektika paling dinamis. Apa lagi khusus untuk Makassar, Warkop menjadi ruang pertemuan dan perbincangan politik. 

Ditengah wajah semraut pendidikan kita yang tak kunjung mampu mendongkrat kualitas sumber daya manusia indonesia. Kita disajikan pemandangan baru, dua rektor kampus ternama di Makassar hadir diwarung kopi. Mereka tak sembarang hadir, mereka diundang sebagai narasumber pada Focus Grup Discussion dengan tema “dari Makassar untuk Indonesia Damai”. Diskusi ini dihadiri oleh elit – elit politik Sulawesi Selatan. Ada nama – nama besar seperti Syahrul Yasin Limpo, Ilham Arief Sirajuddin, Lutfi A Mufty, Syamsu Rizal MI, Farouk M Beta, Akbar Endra dan banyak lagi politisi lainnya. 

​Diskusi ini disesaki banyak peserta diskusi, bahkan bertahan sampai berkahir diskusi. Ada penegasan dari salah satu rektor yang hadir, jika sejak awal sebelum jadi rektor pun, selalu menyempatkan diri untuk ngopi di warkop. Hal ini tentu bukan hal yang lumrah, karena memang warung kopi tempat untuk semua kalangan.  

​Perbincangan ini tentu bukan hal yang menyita publik.namun rentetannya sepertinya menyisahkan ada yang menarik. Beberapa hari setelah ini, publik di ramaikan oleh pernyataan rektor Unhas dan UIN yang siap pasang badan kepada siapa saja yang “mengganggu” kepemimpinan Gubernur Sulsel. Tentu publik ramai, apa lagi ini masih menjadi rentetan dari pembahasan pansus angket di DPRD Sulsel. Tentu publik menganggap itu bagian dari pernyataan politik. Padahal secara etis tak sepatutnya kampus ikut – ikut berpolitik. 

Kembali  ke warung kopi, bagi kalangan masyarakat Makassar. warkop itu sangat dekat dengan simbol politik.  Berbagai isu terkait perkembangan politik sangat mudah di jumpai di warung kopi. Hal ini tentu membuat kita bisa berasumsi bahwa yang sering ke warkop itu pasti dekat dengan isu dan wacana politik. 

Warung kopi dan rektor sepertinya memang tak punya kaitan erat. Tapi soal politik sepertinya demikian. Dalam Homo Academicus (1984) , Bourdieu menolak ide bahwa wilayah akademis adalah arena atau bidang yang tidak terlepas dariaktivitas tanpa pamrih, kolegial, dan intelektual. Tapi juga tejradi persainan antara individu – indiidu untuk mengontrol bidang tertentu, persaingan antara gaya kerja dan pendekatan intelektual dan persaingan antara disiplin ilmu dan keterampilannya. Maka rektor yang terbiasa dengan “suasana” diwarung kopi dan pernyataan “pasang badan” rektor juga mungkin merupakan sebuah realitas persiangan yang di maksud Bourdieu. 

Maka hal yang wajar, jika banyak isu yang beredar di warkop bahwa realitas ini karena ada beberapa “gerbong” yang sedang berebut pengaruh jadi the next Jusuf Kalla. Tentu dukungan akademisis dan kampus sangat menguatkan legitimasinya. Tapi itu Cuma isu di warkop, mungkin juga ada benarnya.