Pilwalkot Makassar, ‘Poros Amirullah’ Poros Siapa ?


Danny Pomanto

Oleh
: Ahmad Sangkala*

MakassarBicara.com-Gelanggang politik kita saat ini sepertinya belum bisa bergeser dari gaya primitif. Pengaruh dinasti, kelompok, simpul primordial masih jauh lebih berpengaruh dibanding visi dan program yang ditawarkan kandidat. Tentu ini bukan opini semata, sebab jika melihat realitas di pemilihan walikota Makassar 2020 mendatang masih diwarnai wajah – wajah lama. Walaupun beberapa nama baru massif melakukan sosialisasi, seperti dr Fadi Ananda, Sarifuddin Daeng Punna (Sadap), dr Taufiqqulhidayat Ande (dokter onasis), Ismak, Abdul Rachmat Noer, dan berbagai figur lainnya. Namun survei membuktikan hanya 4 nama yang memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas tinggi.

Hasil
survei nurani strategic yang dilakukan tanggal 7 – 12 oktober 2019 menunjukkan
bahwa  Mohammad Ramdhan
Pomanto meraih tingkat popularitas sebesar 65,7%. Disusul Syamsu Rizal (54,8%),
Munafri Arifuddin (44,5%), dan Irman Yasin Limpo (34,8%). Rachmatika Dewi
(33,8%), Aliyah Mustika Ilham (32,7%), Rusdin Abdullah (24,6%), Taufiqul
Hidayat Ande (21,8%), Sukriansyah L (16,8%), dan lain-lain (36,9%). Untuk tingkat elektabilitas, dengan metode yang sama, namun
hanya boleh menyebut satu nama, Moh Ramdhan Pomanto (15,1%), Munafri Arifuddin
(11,2%), Syamsu Rizal (10,3%), dan Aliyah Mustika Ilham (8,4%).

Nama – nama yang menempati urutan 5 besar ini tentu tak asing dikalangan masyarakat Makassar. Mantan Walikota Danny Pomanto,  Syamsu Rizal mantan wakil walikota Makassar dan juga loyalis IAS, Munafri  Arifuddin, menantu Aksa Mahmud dan Irman Yasin Limpo, adik mantan Gubernur Sulsel dan juga menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Bagi Nurmal Idrus, Direktur Nurani Strategic, keempat ini diklasifikasi dengan istilah “poros” masing – masing. Dimana poros pertama, Batu Putih dengan kendali di bawah Ilham Arief Sirajuddin (IAS). Dua nama yang disiapkan adalah A Rachmatika Dewi (Cicu) atau Syamsu Rizal (Deng Ical). Poros kedua, poros Chairil Anwar dengan kendali Aksa Mahmud. Cuma satu nama yang disokong. Munafri Arifuddin alias Appi, menantu Aksa.  Dan poros ketiga,  gerbong Haji Bau dengan kendali Syahrul Yasin Limpo (SYL). Ada tiga nama yang mencuat. Irman Yasin Limpo (None), Haris Yasin Limpo (HYL) dan Indira Chunda Thita SYL. Sementara poros keempat adalah poros Amirullah, yang tak lain dikendalikan sendiri oleha Danny Pomanto.

Dari keempat poros ini, tiga diantaranya memiliki patron yang memiliki pengaruh besar. Hanya satu poros yang tak memiliki patron yakni poros Amirullah yang dikendalikan sendiri oleh kandidatnya yakni Danny Pomanto.

Wajarkah Amirullah dikategorikan Poros?

Istilah poros juga biasa dikenal sebagai “gerbong” atau lebih sederhananya disebut kelompok adalah yang memiliki simpul massa dan power yang jelas. Biasanya dimiliki oleh para politisi senior atau klan dinasti yang besar. Namun  “Poros Amirullah” berbeda, istilah diambil dari nama lorong rumah pribadi Danny Pomanto ini bukan dibangun oleh dinasti yang kuat, serta dari politisi senior yang menguasai partai tertentu. Walaupun awalnya poros ini dianggap disokong oleh pejabat  pemkot Makassar yang masih loyal pada Danny Pomanto. Namun pasca menjabat, kediaman Danny Pomanto ini masih ramai dikunjungi berbagai kelompok masyarakat. Bahkan mereka masih berbondong – bondong untuk menyatakan dukungannya agar Danny Pomanto kembali bertarung di pemilihan walikota Makassar 2020 mendatang.

Realitas tersebut, ditambah hasil survei yang masih terus memuncaki popularitas dan elektabilitas. Menandakan bahwa Danny Pomanto dengan poros Amirullah merupakan kekuatan politik yang patut diperhitungkan di kota Makassar.

Apa kekuatan Poros Amirullah?

Amirullah menjadi kekuatan baru pasca Danny Pomanto menjabat sebagai walikota Makassar. kekuatannya teruji ketika turut serta menjadi bagian dari pemenangan pasangan Danny Pomanto – Indira Mulyasari dengan survei yang signifikan terus meningkat. Walau pasangan ini di diskualifikasi, namun poros Amirullah disebut turut menjadi  bagian dari kemenangan kolong kosong.

Kekuatan politik ini terbentuk semenjak Danny Pomanto menjadi Walikota yang mampu memberikan perubahan terhadap kota Makassar. berbagai inovasi yang dilakukan dirasakan langsung oleh masyarakat, penguatan sistem RT/RW serta kesejahteraannya membuat masyarakat lapisan menengah ke bawah merasakan kehadiran pemerintah sampai tingkat paling kecil. Begitu pun “revolusi” lorong dengan berbagai programnya mampu mengubah wajah lorong serta citranya.

Secara personal, Danny Pomanto pun
rutin mengunjungi berbagai kegiatan warganya. Baik itu acara besar maupun acara
kecil seperi pesta pernikahan, khitanan, dan berbagai acara lainnya. Begitu pun
rujab walikota “bebas” digunakan oleh berbagai komunitas, organisasi pemuda
maupun organisasi kemasyarakatan. Hal inilah yang terakumulasi menjadi kekuatan
poros Amirullah.

Dengan demikian, walaupun patron dan kandidatnya hanya terpusat pada Danny Pomanto. Tapi barisan rakyat menyatu didalamnya membuatnya kuat. Membuatnya terus ada dan berlipat ganda. Maka tak salah jika dikatakan, poros Amirullah adalah poros rakyat!.