Pilwalkot Makassar, Ada Maling Teriak Kemalingan, Siapa?


Ilustrasi Korupsi, (Sumber Foto : kppodorg)

Oleh : Arman Zul Asman

 

Danny Pomanto korupsi! Begitu tudingan manusia-manusia yang penuh prasangka jelang pemilihan walikota dan wakil walikota Makassar. Media sosial disebari sampah umpatan. Interkasi sosial disesaki fitnahan. Sebagian diantara mereka membangun narasi silogisme untuk memperkuat kebohongan semu miliknya. Liat saja anggotanya ditahan koropsi, seorang pimpinan tidak mungkin tak tahu persoalan, Danny Pomanto pimpinannya. Jadi, Danny Pomanto korupsi!

Banyak kasus-kasus korupsi dihembuskan kembali ke publik. Aparat berwenang turut melakukan penyelidikan hingga penyidikan. Nyatanya, kebenaran tidak pernah berbohong dan kebohongan tak pernah berkata benar. Segala tudingan tak terbukti, hanya fitnah yang terbukti. Danny percaya diri dirinya bersih untuk melenggang maju kembali. Tekadnya bersih, seperti programnya. Bukan hanya kebersihan lorong Makassar, tapi kebersihan jiwa dan raga warga dan pejabat warga Makassar.

Danny tegas, kali ini pihaknya akan membangun pemerintahan bersih. Lihatlah pada visi misi bertagline Adama’ ini, tertulis “revolusi SDM & percepatan reformasi birokrasi menuju SDM kota unggul dengan pelayanan publik kelas dunia bersih dari indikasi korupsi.” Pada poin kelima, tertulis Percepatan tata pemerintahan “sombere dan smart” bersih dari indikasi korupsi.”

Penulis hanya ingin bilang, jika dari segala macam upaya untuk memojokkan Danny Pomanto dengan merujuk dari pemerintahan sebelumnya dan dari perilaku bawahannya, dengan mengganggap era Danny “kotor”, tak terbukti. Justru Danny-lah yang menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi di Makassar, setidaknya dimulai dari visi dan misi kandidat. Cermati semua visi dan misi kandidat yang ada di media-media, hanya Danny Pomanto yang menuliskan pemerintahan bersih dari korupsi secara rinci. Hal ini membuktikan bahwa Danny Pomanto tidak seperti mulut mereka.

Maling teriak Maling? Betul-betul manusia-manusia ini. Sudah dikasi bukti, malah masih mengutuk! Tak apalah, mari kita melihat ke belakang terlebih dahulu.

Jakarta, hari Kamis 15 September 2016, saat Danny Pomanto masih menjabat. Beliau berbicara upaya pencegahan korupsi pada seminar yang digagas oleh Transparency International Indonesia (TII), di Hotel Royal Kuningan. Bersama Danny ada enam narasumber lainnya, mereka adalah Kepala Kantor Kepresidenan Teten Masduki, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Rahardjo, Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo, Bupati Bojonegoro Suyoto, Rektor Universitas Airlangga Prof Dr Mohammad Nasih, dan Rektor Universitas Muslim Indonesia Prof Dr Masrurah Mochtar.

Kata Danny, upaya pencegahan korupsi di internal pemerintahannya intens dilakukan dengan memaksimalkan fungsi pengawasan yang efektif dan profesional yang dijalankan oleh Inspektorat Makassar. Bentuk pencegahan lainnya yang dilakukan oleh Wali Kota Danny dengan mengefektifkan fungsi majelis pertimbangan Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi melalui penerbitan SK Wali Kota Makassar Nomor : 1473/951.05/KEP/VIII/2015. TP – TGR merupakan salah satu wadah internal pemerintah kota untuk menyelesaikan temuan-temuan aparat pengawas fungsional seperti BPK, BPKP, dan Inspektorat yang dilakukan oleh bendahara, pegawai bukan bendahara maupun pihak ketiga yang melakukan perbuatan merugikan keuangan, dan barang daerah.

Majelis pertimbangan TP – TGR bertugas  mengumpulkan, menata usahakan, menganalisa, dan mengevaluasi kasus TP-TGR. Memproses dan menyelesaikan TP-TGR, dan memberikan laporan berupa pendapat, saran, dan pertimbangan kepada pengadilan pada setiap kasus yang menyangkut TP-TGR.

Bahkan sepekan sebelum berakhirnya masa jabatannya di tahun 2019, isu korupsi mulai berhembus keras bak badai puting beliung. Danny tetap tenang, Danny berjalan tegak bersama rombongan pemberantasan korupsi melakukan cek fisik terhadap sejumlah aset-aset Pemkot Makassar yang telah dikuasai pihak-pihak tertentu, tetapi berhasil diselamatkan.

Turut hadir Tim Pemburu Aset kota Makassar, dan unsur kejaksaan (Jaksa Pengacara Negara). Beberapa titik aset Pemkot Makassar yang dikunjungi yakni, Taman Laguna Losari (Metro Tanjung Bunga, Kawasan Pergudangan Makassar (Tol – PT Pelita Argo Mustika Karya), Terminal Regional Daya dan Pasar Niaga Daya, Fasum di Jalan Pengayoman, Fasum Perumnas RS Faisal, Fasum Terminal Toddopuli, dan Warkop CCR Toddopuli.

Dari segenap upaya pemberatasan korupsi yang dilakukan Danny Pomanto, penulis ingin bertanya balik. Apakah Danny betul-betul maling yang berteriak maling ataukah ada maling yang kesakitan lalu menuduh dirinya sedang dimaling.

Sejak era kepemimpinan Danny yang menerapkan pemerintahan bersih, transparan dan bebas korupsi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Makassar melonjak tajam. Sebelumnya PAD hanya berkisar Rp.500 miliar dalam jangka 3 tahun meningkat Rp.1,4triliun. Segala sumber penghasilan dimaksimalkan tanpa kebocoran, pajak-pajak digenjot demi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Meski beberapa perusahaan besar menolak membayar pajaknya, Danny tetap tak gentar. Hal ini membuktikan, pemerintahan yang bersih akan berimplikasi pada kemandirian ekonomi.

Dari berbagai langkah dan strategi Danny Pomanto terdahulu, semenjak memimpin Kota Makassar, terbukti Makassar melampaui 2 kali tambah baik, dan memang tak seharusnya mundur kembali jika dipimpin oleh “baron aset” atau “mafia pajak” yang membuat aset dan sumber pendapatan kota Makassar hilang.

Saat ini, Danny Pomanto menegaskan kembali akan berperang melawan korupsi yang dia tulis sendiri dalam visi dan misinya lima tahun memimpin kembali Kota Makassar. Tak heran, dukungan pemberantasan korupsi terus mengalir kepada sang arsitek Makassar kota dunia ini. Salah satunya adalah LSM Lumbung Informasi Rakyat. Melalui Gubernur LIRA Sulsel, Andi Irwan Paturusi.

Irwan mengakui begitu banyak prestasi yang telah diperoleh oleh Danny Pomanto semenjak memimpin kota Makassar, LIRA sendiri mengapresiasi komitmen Danny Pomanto dalam hal pemberantasan korupsi pada era kepimpinannya di Kota Makassar. Pihak LIRA sangat tertarik dengan komitmen Danny Pomanto dalam pemberantasan korupsi.

Apapun yang telah dipersembahkan Danny Pomanto kepada Kota Makassar saat ia memimpin, itu telah kita rasakan dan itu harus diakui, kalaupun masih ada yang belum maksimal itulah kemudian kita akan sama – sama sempurnakan lagi dengan memberikan dukungan kepada Danny – Fatma di tanggal 9 Desember 2020 mendatang, begitu ketegasan Irwan Paturusi.

Saya pun rasa demikian. Kalau pembaca?