Peduli Kanal, Bukan Hanya Saat (Akan) Banjir


Kanal yang memanjang di sekitar Jalan Batua Raya

MakassarBicara.com-Semua orang tentu tak ingin daerahnya kebanjiran. Juga semua orang bersepakat bahwa kebersihan tentu dapat mencegah banjir. Namun keinginan dan pengetahuan kita akan cara mencegah banjir kadang tak diimplementasikan dengan baik. Seperti sekedar jargon semata, kebersihan itu penting.

Ketika
banjir datang, semua mengeluh dan mencari ‘kambing hitam’. Tapi itu dilakukan
oleh orang yang tentunya tak berfikir bijak. Sebab, mereka turut menyumbang
penyebab kebanjiran dengan tak berpola hidup bersih. Tentu bersih bukan sekedar
tak membuang sampah sembarang tempat, tapi juga merawat saluran air serta tak
membuat bangunan yang tak sesuai Izin Membuat Bangunan (IMB).

Jika
masyarakat ada yang lalai, tentu itu hal yang wajar. Sebab tak semua masyarakat
bisa sadar akan hal tersebut. Walaupun program Makassarta Tidak Rantasa’ (MTR)
sudah massif, tapi belum sepenuhnya bisa disadarkan. Justru yang menjadi
kendala, jika pemerintah yang kemudian kurang sadar akan hal tersebut.

Massifnya gerakan Makassarta Tidak Rantasa’ (MTR) dengan berbagai program turunannya sepertinya mulai memudar. Walaupun belum ada data rill terkait penurunannya, tetapi setidaknya hamparan enceng gondok di beberapa kanal di kota Makassar ini menjadi salah satu indikator kecilnya.

Sebut saja kanal yang memanjang di sekitar Jalan Batua Raya dulunya bersih, sekarang telah dipenuhi enceng gondong. Bahkan airnya tak lagi muncul karena begitu padatnya enceng gondok.

Keprihatinan
kita muncul karena saat ini telah memasuki bulan Desember, tentu seperti
biasanya telah memasuki musim hujan. Kanal yang bersih sekalipun masih sulit
menampung volume air saat hujan deras tiba. Bahkan tetap terjadi banjir
walaupun tidak terlalu besar. Namun dengan kondisi seperti ini, tentu kanal
dengan padatnya enceng gondok akan semakin kecil menampung volume air. Hampir
pasti, dengan hujan deras kanal tersebut akan meluap.

Seperti
kita ketahui di Makassar seperti yang di kutip pada laman https://www.mongabay.co.id dengan judul
artikel “Beginilah Kondisi
Drainase dan Pesisir Makassar” yang ditulis Eko Rusdianto (2015), ada tiga aliran
kanal utama mengatur sistem panyaluran drainase untuk pembuangan,  yakni,
Kanal Panampu, Jongaya dan Sinrijala dengan panjang aliran masing-masing 40 km.
Untuk kanal tersier 3.200 km. Maka butuh waktu dan tenaga yang besar untuk
membersihkan dan merawat kanal – kanal ini.

Masih dari artikel
ini, jika merujuk dalam sejarah  yang
ditulis naturalis asal Inggris Alfred Russel
Wallace dalam The Malay of Archiplago (1856), menuliskan kekaguman
saat mengunjungi Makassar. Menurutnya, Makassar kota yang dibangun Belanda di
bagian timur yang paling cantik. Jalan-jalan dijaga agar bersih dari sampah,
pipa-pipa bawah tanah membawa semua kotoran dan mengalirkan ke saluran penampungan
terbuka. Air kotor akan masuk ke penampungan saat arus pasang dan hanyut saat
surut.  Gambaran Wallace itu sungguh
berbeda dengan kini. Di wilayah utama Makassar saat kedatangan Wallace, seperti
Jalan Ribura’ne, atau sekitaran Benteng Rotterdam, saluran-saluran drainase
makin kacau. Ada beberapa tertutup bangunan, atau tumpukan sampah menyumbat
aliran.

Catatan dari
Eko Rusdianto (2015) ini menekankan kita bahwa kanal – kanal kita pernah dirawat
dengan baik di masa lalu. Bahkan berpotensi untuk dikelola sebagai transportasi
air atau wisata. Tapi menjaga kebersihannya agar optimal mengalirkan air saja
sudah lebih dari cukup. Karena semuanya harus disiapkan menyambut musim
penghujan ini.

Terakhir, pemerintah
kota Makassar dan segenap elemen yang ada di kota Makassar harusnya komitmen
dan konsisten menjaga kanal kita. Jangan hanya ketika banjir tiba, karena
semuanya tak akan memberi solusi. Saatnya bersihakan kanal kita, ataukah citra
pejabat kita akan di “bersihkan” oleh banjir nantinya.