Pak IAS, Belajarlah Survei pada Presiden Batu Putih Syindicate


Hasil Survei CRC
Hasil Survei CRC

Oleh : Ahmad Sangkala*

“Ini yang lucu, kalau surveinya rendah dia (Paslon) tidak terima, giliran tinggi surveinya, langsung percaya,”jelas Presiden Batu Putih Syindicate,  Syamsul Bachri Sirajuddin, seperti dikutip bacapesan.com (9/9/2020).

Pernyataan ini relevan untuk menjawab pernyataan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) yang seolah tak percaya survei saat menanggapi hasil survei Celebes Research Centre (CRC) yang mengunggulkan 40,4 persen Syamsu Rizal-Fadli Ananda hanya 14,0 persen.

Berikut tanggapan Ilham Aire Sirajuddin (IAS) pada berbagai media (13/10/2020) dan media sosial  :

“Alhamdullilah, hasil di lapangan sangat menggembirakan. Tidak apa-apa tidak diunggulkan pada hasil survei, tapi Insya Allah Dilan yang akan menang di TPS. Ya itu merujuk dukungan masyarakat yang semakin besar untuk paslon kita ini

Pernyataan ini menegaskan bahwa IAS tidak percaya dengan hasil survei terkait Pilwalkot Makassar. Bahkan menegaskan lebih percaya pada realitas lapangan yang dia saksikan sendiri.  Jawaban ini sebenarnya banyak dilontarkan tim kandidat untuk memenangkan  basis loyalisnya di level akar rumput. Sebab sejauh ini, hasil survei tentu sedikit banyaknya mempengaruhi opini publik. apa lagi di Makassar, karakteristik pemilih cenderung memiliki psikologi ingin menang. Sehingga selain mempelajari visi dan misi kandidatnya, tentu mereka juga cenderung mencari instrumen lain untuk mengetahui sejauh mana peluang kandidatnya untuk menang.

Polemik publikasi survei di Makassar ‘memanas’ setelah CRC melakukan rilis yang menempatkan Danny – Fatma unggul jauh dari lawan – lawannya.  Selain IAS, Jubir  Appi – Rahman juga menyoroti survei ini.  Bahkan Fadli Noor menyoroti track record CRC yang pernah melenceng di Pilkada Takalar dan Wajo beberapa tahun lalu. Sorotan juga muncul dari berbagai kalangan, namun rata- rata memiliki hubungan tertentu dengan kandidat yang ada di Pilwalkot Makassar.

Bantahan IAS terkait survei bukan kali pertama, saat bertarung pada Pilgub 2013 lalu juga demikian. Dimana saat itu Quick count Citra Publik Indonesia (CPI) Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Group dan Jaringan Suara Indonesia (JSI)  merilis keunggulan pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang.  IAS menegaskan bahwa hasil penghitungan ‘real’ dari 24 kabupaten dan kota yang dilakukan timnya hingga malam hari, dari data 80 persen suara yang masuk di server hasilnya menggembirakan. IAS bahkan mengklaim hasilnya  perhitungannya unggul. Namun nyatanya pernyataan itu meleset, sebab hasil penetapan KPU tetap menempatkan pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang memenangi Pilgub 2013 lalu.

Bagaimanapu, ukuran yang paling mendekat akurasi dalam metode ilmiah tentunya adalah dengan survei. Justru yang patut disoroti adalah soal metode yang digunakan, berapa margin eror dan sampling responden yang digunakan.

Terakhir, kami patut mengapresiasi bahwa pak IAS adalah salah satu tokoh politik yang ada di Sulsel. Kita  berharap beliau tidak menurunkan ketokohannya dengan merespon temuan ilmiah dengan subyektifitas. Beliau bisa lebih banyak belajar dan berdiskusi dengan Presiden Batu Putih Syindicate, Syamsul Bachri Sirajuddin yang saat ini menjadi konsultan Politik Bapaslon Muhammad Yusran Lalogau dan Syahban Sammana (MYL-SS) di Pilkada Pangkep. Dimana Batu Putih Syindicate mengantarkan pasangan ini unggul dengan elektabilitas ditingkat 42 persen, Selisih 9 persen dari urutan kedua. Sepertinya pak IAS dan batu Putih Syindicate memiliki hubungan kekerabatan, emosional dan historikal yang sangat kuat.