Menyoal sampah di kota Dunia


Oleh : Rizal Pauzi*

MakassarBicara.com-Semakin maju sebuah kota, maka semakin rumit penanganan sampahnya. Begitulah yang dihadapi kota Makassar. Dimana dengan visi kota Dunia yang nyaman untuk semua, Makassar terus berupaya melakukan berbagai peningkatan pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur.

Sampah tentu menjadi tantangan tersendiri jika tak mampu dikelola dengan baik. Sampah yang menumpuk akan menjadi salah satu penyebab utama banjir, sarang penyakit dan berbagai permasalahan lainnya. Apa lagi jika didominasi sampah plastik, tentunya akan lebih berbahaya lagi.
Berbagai model penanganan sampah yang diterapkan berbagai daerah. Tentunya bukan sekedar mengambil sampah dimasyarakat dan mengangkutnya di Tempat pembuangan akhir (TPA). Tapi juga mengolah sampah itu untuk leih memanfaat.

Makassar melalui Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Bank Sampah Makassar untuk periode Januari-Juni 2019 telah berhasil meraih perputaran ekonomi sebesar Rp 600.000.000 (enam ratus juta rupiah). Adapun hasil ini berasal dari pengelolahan Bank Sampah Unit (BSU) yang aktif berjumlah 543. Ini belum mencapai target yakni 825 Bank Sampah Unit yang beroprasi.

Adapun UPTD sampah ini berdiri pada tahun 2014 berdasarkan peraturan walikota nomor 65 tahun 2014 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis daerah (UPTD). Dalam perwali inilah salah satunya memuat tentang pmbentukan UPTD pengelolaan daur ulang sampah. Ini merupakan bentuk komitmen kelembagaan pemerintah dalam menangani persoalan persampahan di kota Makassar. Walaupun tidak bisa dipungkiri, Bank Sampah telah beroperasi di kota Makassar sejak tahun 2011.

Di Era kepemimpinan Danny Pomanto – Syamsu Rizal, pemkot Makassar kembali mendorong inovasi pengelolaan sampah dengan melaunching aplikasi Tangkasarong (30/3/2017). Adapun integrasi dari Aplikasi Tangkasrong, yakni portal untuk Bank Sampah Pusat, Bang sampah Unit (BSU), Aplikasi Android untuk BSU dan Aplikasi Android untuk nasabah. inisiasi Bank Sampah dan Aplikasi Tangkasarong ini bisa lebih memperkuat kesuksesan program Makassar Tidak Rantasa (MTR).

Kemajuan pengelolaan sampah di kota Makassar ini patut diapresiasi, selain telah memiliki landasan konstitusional yang jelas, memiliki kelembagaan yang jelas serta telah menfaatkan teknologi aplikasi. Pada hakikatnya, program yang memiliki variabel seperti ini sudah hampir dipastikan akan berjalan sukses. Tentu hal ini dapat dilihat dari pencapaian – pencaiannya. Namun satu hal yang pasti, bahwa Program pemerintah akan dapat berjalan dengan baik jika adanya partisipasi masyarakat serta tingkat kesadaran masyarakat akan kebersihan juga sudah terbangun.

Jika merujuk pada data pemkot Makassar tahun 2017, kultur bersih masyarakat baru diangka 65 % . padahal untuk angka ideal harusnya mencapai 98%. Hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk terus menggenjot program penanganan persampahan ini. Apa lagi untuk mengubah kultur masyarakat, butuh waktu dan proses yang panjang, kecuali dengan kampanye yang massif disertai dengan intervensi yang terorganisir.

Tentu kita patut mengapresiasi gerakan massif dari ujung tombak pemerintah “level bawah” yakni RT/RW yang massif mengorganisir masyarakat untuk penanganan sampah. Walaupun akhir – akhir ini terasa kembali mulai kendor.

Olehnya itu, penanganan sampah di kota Makassar ini perlu untuk terus ditingkatkan sampai berkelas dunia. Tentu dengan komitmen kuat dari pemimpin beserta jajaran dan masyarakat pada umumnya. Intinya, sampah apa pun pemaknaannya, harus menjadi musuh kita bersama.


*) Penulis adalah direktur Public Policy Network