Menguji  Kekuatan  Pak IAS di Pilwalkot Makassar


Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Istrinya

 “Iya, insyaallah. Dan bisa bertambah dari tiga partai ini (PKB, PKS, dan PDIP)”. Jelas Mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (IAS) saat di konfirmasi fajar.co.id (14/6/2020) terkait partai pengusung pasangan Syamsu Rizal – Fadli Ananda.

Pernyataan pak IAS di media ini memiliki implikasi dua sisi. Di satu sisi menguatkan klaim pasangan Syamsu Rizal – Fadli Ananda  untuk bertarung di Pilwalkot Makassar 2020. Selain itu, tentu pasangan ini memiliki “ sokongan power” untuk memenangkan pertarungan ini. namun disisi lain, pernyataan ini menjadi ujian bagi ketokohan IAS di Makassar. dimana dalam hal ini, rekomendasi resmi ketiga partai tersebut belum ditangan. Sehingga masih ada kemungkinan untuk berpindah.

Bagi seorang politisi ulung, tentu IAS punya pertimbangan yang matang. Belum lagi pengalamannya sebagai walikota Makassar 2 periode. Sehingga dalam setiap langkahnya tentu dengan kalkulasi politik yang jelas. Bahkan dari beberapa analisis dari pengamat politik menyebut dukungannya sangat berpengaruh terhadap kemenangan kandidat di Pilwalkot Makassar. Dengan demikian, langkah politiknya adalah pertaruhan.

Dukungan dan keyakinannya untuk pasangan Syamsu Rizal – Fadli Ananda bukan sebatas statemen terbuka. Tetapi ditunjukkan dengan berbagai safari politik Syamsu Rizal yang turut didampinginya. Terbaru, saat mengikuti fit and profertest Partai Demokrat di hotel Claro, IAS mendampingi Syamsu Rizal. Tentu ini sebagai sinyal kepada partai Demokrat bahwa dirinya total untuk kandidat ini.

Klaim politik ini sepertinya masih butuh pembuktian. Sebab Ketua DPC PDIP Makassar, Andi Suhada kepada Fajar.co.id (13/6/2020) menegaskan bahwa belum ada usungan yang final sebelum DPP PDIP mengeluarkan rekomendasi. Itu baru satu partai, partai lainnya yang berpeluang direbut kandidat lain yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dimana surat tugas Syamsu Rizal berakhir tanggal 26April 2020 dan belum ada surat tugas terbaru. Dalam perbincangan warung kopi pun berhembus jika elit PKS tidak ingin berkoalisi dengan PDIP.

Realitas ini menjadi bagian dari ujian awal dari sosok IAS. Jika pasangan ini  berhasil mendapatkan rekomendasi ketiga partai ini dan segera melangsungkan deklarasi. Maka ketokohan IAS masih dianggap tangguh. Namun jika tak demikian, maka bisa saja kalkulasi politik terkait dukungan IAS terhadap kandidat di Pilwakot semakin melemah. Dengan kata lain, jika kandidatnya pun bertarung, maka keberadaan IAS tak lagi di unggulkan sebagai pendulang suara.

Pengaruh IAS berdasarkan survei sepertinya kian menurun. Berdasarkan hasil riset PT General Survei Indonesia (GSI)  digelar pada 10-20 Februari 2020 menunjukkan pengaruh Ilham Arief Sirajuddin (IAS) terhadap pilihan warga Makassar hanya 9,05 persen. Angka ini tergolong rendah jika di banding Pengaruh Jusuf kalla yakni 19,15 persen disusul Syahrul Yasin Limpo 18,25 persen dan Nurdin Abdullah 16,95 persen. Namun pengaruh IAS masih lebih berpengaruh ketimbang tokoh sekaliber pendiri Bosowa Corporation, Aksa yakni 6,75 persen dan mantan Menteri Pertanian Amran Sulaiman 2,85 persen.

Jika merujuk pada survei ini, tentu IAS masih menjadi salah satu patron kuat yang memiliki pengaruh di kota Makassar. namun perlu juga berhati – hati, sebab angka 9,05% ini masih bisa tergerus jika ada blunder politik yang dilakukan. Belum lagi, 3 nama yang memiliki pengaruh besar di Makassar sepertinya juga berkepentingan di Pilwalkot Kali ini. sehingga pilwalkot 2020 ini tetap menjadi medan berebut “gengsi” para tokoh ini. yang pasti pak IAS punya pengaruh di Makassar, jika menang maka pengaruhnya berlipat ganda. Namun jika kalah, tentu semakin tergerus. Tapi itulah politik, butuh panggung kompetisi dan pilihan tentunya. Pak IAS sudah memilih kandidatnya, saatnya menjalani ujiannya!

 

Rizal Pauzi adalah Direktur Public Policy Network