Memarkir Kendaraan di Lahan Pikiran


Setiap pelanggan berhak mendapatkan pelayanan prima dari para pemilik usaha, termasuk dalam hal tempat parkir. Banyak pemilik kedaraan yang belum bisa menikmati fasiltas parkir yang memadai. Seringnya terjadi kehilangan, kerusakan dan tidak tersedianya tempat parkir membuat pelanggan cenderung kawatir mengenai keselamatan kendaraannya.

Beberapa pemilik usaha seperti hotel atau pusat perbelanjaan di kota Makassar luput dari hal yang sederhana, bahwa rasa nyaman tidak semata-mata diperoleh saat kamu bisa makan dengan berbagai menu lezat setiap hari, dekorasi ruangan yang artistik, pelayan yang ramah, serta latar pemandangan yang menawan.

Rasa nyaman juga tidak hanya diperoleh ketika kamu ke pusat perbelanjaan dan mendapatkan lingkungan yang bersih, barang dagangan yang tersusun rapi pada etalase-etalase toko atau kamar kecil yang bebas dari pungutan. Pemilik usaha seharusnya menyadari rasa nyaman bisa diperoleh dari hal yang kita anggap sederhana, seperti tempat parkir.

Coba anda bayangkan ketika anda menyewa kamar di sebuah hotel yang tidak menyediakan fasilitas lahan parki, anda bisa merasa nyaman dengan fasilitas-fasilitas di dalam hotel, tetapi itu tidak akan bertahan lama, karena mungkin keyamanan yang anda peroleh tiba-tiba surut perlahan oleh sebuah kekawatiran, atau juga bagaimana rasa kekawatiran akan keamanan kendaraan anda tiba-tiba merusak kesenangan yang anda miliki saat sedang berbelanja di pusat perbelanjaan.

Saya pernah mengalami kondisi demikian, ketika saya terpilih menjadi salah satu peserta workshop yang dilaksanakan pada salah satu hotel yang terletak tidak jauh dari ikon kota Makassar, yakni Pantai Losari. Kekecewaan saya berawal saat mengetahui bahwa pihak hotel tidak menyediakan tempat parkir bagi setiap kendaran roda dua. Berbeda dengan kendaraan roda empat, pihak hotel menyediakan tempat parkir bagi setiap pemilik kendaraan. Bagi kendaraan roda dua, petugas keamanan mengarahkan agar semua kendaraan diparkir di pinggir jalan tepat di depan hotel.

Awalnya saya merasa tidak kawatir terhadap keamanan kendaraan saya, karena terlihat banyak motor yang terparkir di depan hotel, tetapi ketika malam mulai merangkak hingga larut, awan mendung kekawatiran mulai menyelimuti pikiranku. Sekelebat pertanyaan-pertanyaan mulai tumbuh dalam benakku; bagaimana jika petugas keamanan tidak menjaga motorku dengan baik? Bagaimana jika motorku hilang? Tanpa kunci keamanan ganda bisa membuat pencuri dengan mudah mengambilnya.

Kekawatiran yang semakin mekar membuat saya memutuskan pergi mengecek kendaraan. Terlihat masih pada tempatnya semula, tetapi di pelataran depan Hotel, tidak tampak satu petugas keamanan yang berjaga. Setelah menunggu cukup lama, akhinya seseorang petugas muncul dengan wajah yang berat, saya menghampiri dan berusaha bernegosisasi agar ia mengizinkan kendaraanku di parkir di dalam pelataran hotel, akan tetapi ia menolak

Saya bertanya soal keamanannya, sekelebat Ia menjawab “semua kariawan yang berjaga malam, juga memarkir motornya di trotoar di depan toko itu” sambil menunjuk kearah motor yang berjejer di depan toko yang sudah tutup, tepat disamping bangunan hotel. “Apakah itu bisa menjadi jaminan, jika motor saya akan aman? Tentu tidak. Sekumpulan kariawan ini bukan kumpulan orang yang memiliki dominasi semacam sensor panapticon, yang menciptakan rasa takut bagi para pencuri, meskipun si pemilik kendaraan tidak hadir secara langsung,” batinku menyangkal

Tidak ingin mendebat si penjaga keamanan dan prosedur hotel yang mengharuskan demikian membuat saya terpaksa harus menerimanya dan memutuskan kembali ke kamar. Di atas ranjang pikiranku masih berputar-putar perihal keamanan motorku, berharap pagi segera tersirap agar bisa menyaksikan jika motorku masih dalam keadaan aman.

Keesokan harinya saat mata yang masih berat menangkap siluet mentari, pikiranku langsung tertumbuk oleh gambaran tentang sebuah motor. sekelebat saya melompat keluar dari ranjang dan bergegas mengecek motor, “Alhamdulillah,” ucapku dalam batin. Motor saya masih berada pada tempat semula, saya sangat merasa bersyukur, rasa kekawatiran akhirnya menguap seketika, meskipun rasa kekecewaan terhadap pelayanan hotel masih tersisa.

Persaingan yang semakin ketat seharusnya membuat para pemilik usaha agar lebih peka terhadap kebutuhan pelanggan. Kesadaran pentingnya tempat parkir yang aman dan kondusif bagi pelanggan harus ditumbuhkan, bagaimana para pelanggan dapat menikmati pelayanan yang memuaskan jika setiap saat keamanan kendaraanya selalu terparkir di dalam pikiran. Mereka selalu dihantui rasa kekawatiran. Jika hal demikian terus berlanjut, yakin para pelanggan akan kembali?.

 

 

MUNAWIR MANDJO
Alumni Sospol Unismuh, Sekarang aktif di Pemuda
Muslimin Indonesia Kabupaten Takalar