Masuknya Islam di Makassar


ilustrasi

Oleh : Andi Hendra Dimansa*

Kala layar langit senja hendak berganti layar kemerahan hingga suasana malam akan menyelimuti bibir pantai dan bentangan rumah pemukian telah berselimut bahagia. Suasana berkumpul dengan keluarga yang penuh dengan kehangatan.

Karaeng Matoaya mengitari pesisir pantai Makassar yang membuat terpesona siapa saja yang memandangnya. Keramaian dan kesibukan dermaga pelabuhan Paotere seakan tiada hentinya, bahkan ketika layar mentari hendak berganti malam aktifitas tetap sibuk seperti di pagi hari.
Tampak betul aura kharismatik terpancar dari wajah Karaeng Matoaya berbaur dengan kemerahan latar langit. Langkah Karaeng Matoaya tiba-tiba terhenti dengan kemunculan sosok yang memencarkan aura putih bersinar dan mengalirkan keteduhan bagi yang memandangnya.

Sikap rama tetap ditunjukkan Karaeng Matoaya kepada sosok yang tengah ada di hadapannya. Sembari mendekat Karaeng Matoaya berbincang dan sosok yang memiliki aura putih bersinar, meminta Karaeng Matoaya menjulurkan tangannya.

Karaeng Matoaya secara reflek menjulurkan tangannya pada sosok yang ada di hadapannya. Lalu, sosok yang beraura putih bersih tersebut, memberikan tanda pada tangan Karaeng Matoaya. Setelah memberikan tanda sosok beraura putih bersih secara perlahan menghilang dari jangkaun pandangan Karaeng Matoaya.

Suasana petang pun menyelimuti bibir panti dan hamparan rumah penduduk. Karaeng Matoaya akhirnya bergegas menuju Istana Kerajaan Tallo yang tidak jauh dari daerah pelabuhan Paotere. Namun, para pengawal istana langsung memberikan hormat sembari menyampaikan kepada Karaeng Matoaya bahwa ada tamu yang hendak menemuinya.

Penghormatan kepada tamu telah menjadi tradisi bukan hanya dilingkaran istana, tetapi juga telah membudaya di kalangan masyarakat. Ada perasaan siri bagi orang Makassar bila tidak menjamu dan melayani tamu dengan baik, siapapun dia. Hal itulah, yang membuat Karaeng Matoaya bergegas menuju Balai Arung untuk menemui tamunya dan meminta para pelayan istana menyiapkan jamun kepada tamu tersebut.

Begitu Karaeng Matoaya memasuki Balai Arung disambut oleh para pengawal dan pembesar kerajaan. Sembari semua yang hadir memberikan hormat, tiba-tiba Karaeng Matoaya meminta maaf kepada semua yang hadir termasuk kepada tamu yang telah menunggu. Sembari bercerita apa yang tengah dialami baru saja di bibir pantai.

Karaeng Matoaya sembari menunjukkan tangannya yang mendapatkan tanda/cap dari sosok beraura putih bersih yang di temuinya di bibir pantai. Sang Tamu tersebut, memperhatikan dengan saksama tanda/cap yang ada di tangan Karaeng Matoaya.

Sang Tamu meminta kepada Karaeng Matoaya bersama yang hadir di Balai Arung untuk mendatang tempat dimana Karaeng Matoaya mendapatkan tanda di jarinya tersebut. Para pengawal pun bergegas lebih dulu memastikan yang akan di lewati Karaeng Matoaya bersama Sang Tamu tersebut, tidak ada yang akan menghalai.

Setelah tiba di tempat yang dimaksud, Karaeng Matoaya menunjukkan tempatnya, namun sosok yang dimaksud sudah tak tampak lagi. Para pengawal mencari-carinya, namun tak jua di temui, akhirnya Sang Tamu mencium jemari Karaeng Matoaya bahwa yang memberi tanda tersebut tak lain, adalah Nabi Muhammad Saw.

Sosok yang membawa risalah agama Islam, rupanya Nabi Muhammad Saw menampakkan diri di hadapan Karaeng Matoaya dan memberi tanda di tangannya bertuliskan nama Nabi Muhammad Saw. Sontak Karaeng Matoaya berujar “Akkassaraki Nabbiyya” artinya Nabi menampakkan dirinya.
Peristiwa tersebut menjadi penanda dinamainya daerah tersebut, dengan nama Makassar. Segaligus Karaeng Matoaya memeluk agama Islam dengan nama Sultan Awwalul Islam. Yang menjadikan diterimanya Islam di lingkungan istana dan secara perlahan dianut oleh masyarakat.

Posisi Karaeng Matoaya selain menjadi Raja Tallo, juga menjadi Mangkubumi Kerajaan Gowa. Pengaruh Karaeng Matoaya menjadikan agama Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa- Tallo.

Penerimaan Islam menjadi agama resmi kerajaan menjadikan terjadinya perpindahan agama secara besar-besar di wilayah Kerajaan Gowa- Tallo dan wilayah sekitarnya. Bahkan Kerajaan Gowa- Tallo menjadi kerajaan Islam segaligus menyebarkan Islam kepada kerajaan-kerajaan lain, baik di skala kerajaan di Pulau Sulawesi maupun kerajaan di Bima.

Tampaknya ada hal yang menarik dalam proses penyebarnya Islam di kawasan Sulawesi Selatan yakni adanya kesamaan kebiasaan berupa berdagang antara masyarakat Quraiys dengan masyarakat Makassar.
Pedagang memiliki sikap terbuka terhadap sesuatu hal yang baru, tingkat mobilitas dan pergaulannya menyebabkan mudah bergaul di lingkungan tempatnya berdagang. Seolah terbukti setelah Islam masuk dan diterima secara resmi dilingkungan istana. Pedagang-pedagang Makassar banyak menjadi penyebar Islam dalam perjalanan perdagangannya.

Catatan sejarah membuktikan Makassar melahirkan banyak ulama-ulama besar yang menyebarkan dan mendakwahkan Islam hingga Afrika Selatan. Sosok Syehk Yusuf al-Makassari ulama asal Makassar yang menempuh perjalanan dakwah dari Makassar, Banten, Sri Langka hingga Afrika Selatan.
Seolah membuktikan bahwa “Akkassarana Nabbiyya” di hadapan Karaeng Matoaya menjadi simbol betapa Islam di Makassar akan dihadirkan dan disebarkan dimanapun orang Makassar berada.

Dalam perjalanan dagang sekalipun spirit menyebarkan Islam senantiasa menemani bersama terkembangnya layar Perahu Pinisi. Bagi orang Makassar sekali layar terkembang, pantang surut kembali ke pantai. Sekali memeluk Islam, maka selamanya akan menjadi pemeluk Islam hingga kembali berlayar ke pangkuan Sang Ilahi.

*) Penulis adalah penggiat literasi Sulsel