MAKASSAR TA’ TIDAK RANTASA’


[ Gambar : tribuntimur ]

Sampah padat merupakan salah satu bentuk limbah yang terdapat di lingkungan. Masyarakat awam biasanya menyebutnya sampah saja. Bentuk, jenis, dan komposisi sampah sangat dipengaruhi oleh tingkat budaya masyarakat dan kondisi alamnya. Di Negara berkembang pada umumnya sampah di buang tanpa ada usaha memisah-misahkan terlebih dahulu, sehingga menyebabkan sampah yang terkumpul dari wadah-wadah penampungan sampah masih sangat heterogen. Berbagai sampah organik, nonorganik, dan logam masih menjadi satu, sehingga menyulitkan penanganannya.

Di Kota makassar sampah kini menjadi masalah yang semakin serius. Bisa di bayangkan sampah di Kota Daeng ini bertebaran di mana-mana. Bahkan di tempat umum maupun di sepanjang jalan raya sampah bertebaran di mana-mana. Walaupun telah disediakan tempat sampah di hampir seluruh sudut-sudut kota tetapi tetap saja masalah sampah ini belum teratasi.

Status kota Makassar yang menjadi kota metropolitan bukan hanya di Indonesia bagian timur tetapi juga untuk kawasan Indonesia mendorong terjadinya mobilitasasi penduduk Makassar. Menyebabkan bertambahnya penduduk kota Makassar dari tahun ke tahun. Semakin padat penduduk, sampah semakin menumpuk karena tempat atau ruang untuk menampung sampah kurang. Semakin meningkat jumlah penduduk semakin banyak sampah yang dihasilkan. Parahnya pertambahan jumlah penduduk ini tidak dibarengi dengan kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.

Keadaan sosial ekonomi masyarakat kota Daeng yang semakin tinggi semakin banyak jumlah perkapita sampah yang dibuang. Kualitas sampahnyapun semakin banyak bersifat tidak dapat membusuk. Perubahan kualitas sampah ini, tergantung pada bahan yang tersedia, peraturan yang berlaku serta kesadaran masyarakat akan persoalan persampahan.

Selain itu, pelayanan Dinas Kebersihan Kota terhadap sampah yang ada di Makassar belum bekerja secara maksimal, hal ini disebabkan oleh minimnya armada-armada pengangkut sampah, petugas kebersihan yang kurang serta  jumlah tempat sampah tidak seimbang dengan jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat setiap harinya.

Banyak truk-truk sampah yang beroperasi pada siang hari, tentunya ini juga menjadi masalah karena sangat mengganggu para pengguna jalan. Biasa ada sampah yang jatuh dari truk itu menimbulkan bau yang tidak sedap bagi pengendara.

Sampah yang ada di lingkungan masyarakat sangat meresahkan. Sampah ini menimbulkan masalah berantai di mulai dari timbulnya penyakit, merusak estetika kota, menyumbat saluran selokan, menyebabkan polusi air udara dan tanah, dan lainnya.

Apabila masalah sampah ini tidak segera diatasi,  slogan masyarakat kota daeng yaitu tangkasaki’ akan hilang dengan sendirinya digantikan dengan rantasa’. Sungguh hal yang sangat ironis bagi peradaban baru di kalangan masyarakat Makassar.

Sangat miris apabila melihat kondisi TPA kota Makassar di masa sekarang. Dimana sampah bertumpuk setinggi gunung yang tak mengalami penguraian oleh tanah kian hari semakin bertambah. Dapat dijamin bahwa tidak ada yang mampu membayangkan kondisi kota Daeng di masa yang akan datang, mungkin saja kota yang kita banggakan ini bisa dibalut oleh jutaan ton sampah yang menggunung sebagai hasil perbuatan masyarakatnya.

Dapat dikatakan bahwa masalah sampah adalah masalah yang tidak bisa dianggap sepele. Diperlukan tindakan nyata dan kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat didalam penyelesaiannya.

Atas dasar uraian terdahulu dapat dipahami, bahwa pengelolaan sampah sendiri perlu didasarkan atas berbagai pertimbangan yakni untuk mencegah terjadinya penyakit, konservasi sumber daya alam, mencegah gangguan estetika, dan kuantitas dan kualitas sampah akan meningkat.

Untuk itu, dibutuhkan beberapa tahap pengelolaan sampah yang baik yang bisa diterapkan oleh Dinas Kebersihan Kota Makassar. Tahap yang pertama, yaitu  pengumpulan dan penyimpanan di tempat sumber. Sampah yang ada di lokasi sumber (kantor, rumah tangga, hotel, dan sebagainya) ditempatkan dalam tempat penyimpanan sementara, dalam hal ini tempat sampah. Sampah  basah dan sampah kering sebaikanya dikumpulkan dalam tempat yang terpisah untuk memudahkan pemusnahannya.

Kedua, tahap pengangkutan. Sampah di angkut ke tempet pembuangan akhir atau pemusnahan sampah dengan menggunakan truk pengangkut sampah yang disediakan oleh Dinas Kebersihan Kota Makassar.

Ketiga, tahap pemusnahan. Di Makassar sendiri metode yang digunakan adalah Dumping, yaitu sampah dibuang atau diletakkan begitu saja di tanah lapang. Metode ini menyebabkan terjadinya penumpukan sampah. Oleh karena itu, semestinya digunakan metode  Sanitary landfiil adalah sistem pemusnahan yang paling baik. Dalam metode ini pemusnahan sampah dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan tanah yang dilakukan selapis demi selapis. Dengan demikian, sampah tidak berada diruang terbuka dan tentunya tidak menimbulkan bau atau menjadi sarang binatang pengerat. Lokasi Sanitary Landfiil yang lama dan sudah tidak dipakai lagi dapat dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman, perkantoran, dan sebagainya.

Pengelolaan sampah yang baik akan memberikan pengaruh yang positif bagi masyarakat maupun lingkungan daerah itu sendiri. Keadaan estetika lingkungan yang bersih dapat menimbulkan kegairahan hidup masyarakat. Selain itu, menyebabkan berkurangnya tempat untuk berkembang biak serangga atau binatang pengerat sehingga menurunkan insidensi kasus penyakit menular yang erat hubungannya dengan sampah.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa apapun usah pengelolaan sampah, baik skala besar maupun kecil, bila harus mencapai tujuannya, yakni lingkungan dan masyarakat yang sehat, maka faktor yang paling utama yang harus diperhatikan adalah peran serta masyarakat. Masyarakat harus mau mengerti dan berpartisipasi bila perlu juga berubah sikap sehingga bersedia membantu mulai dari pengurangan volume sampah, perbaikan kualitas sampah, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan tempat sampah, sampai pada penyediaan sampah dan pemusnahan sampah.

Makassar dengan masyarakatnya yang memegang teguh falsafah siri’ na pacce sudah seharusnya malu untuk merusak lingkungan. Wujudkan kota Daeng menjadi kota yang bersih dan dapat dibanggakan.

Dalam kaitannya dengan smart city, pemerintah perlu membuka informasi mengenai persampahan melalui media internet dan membuka peluang yang luas bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam masalah persampahan yang ada di kota Makassar.

Penerapan gaya hidup ramah lingkungan juga bisa menjadi pilihan. Sebagai masyarakat yang cerdas, mulailah segalanya dari hal yang kecil karena transformasi tidak akan terjadi begitu saja, jika tidak mulai sedikit demi sedikit. Belajar untuk meminimalisir penggunaan kantongan plastik saat berbelanja, dan membawa wadah sendiri pada saat berbelanja daging, ayam, dan ikan.

Tugas pemerintah disini adalah untuk menyampaikan sosialisasi terhadap usaha-usaha pengelolaan persampahan dan menjadi mitra kerja bagi masyarakat yang ingin mengelola dan mengolah persampahan.

Hidup sehat bebas sampah, menjadi tujuan utama untuk mencapai taraf hidup yang berorientasi kesejahteraan melalui keseimbangan lingkungan dengan lingkungan hidup yang terencana di masa yang akan datang.

Orang Makassar yang bertanggung jawab atas kelestarian lingkungannya mempunyai nilai moralitas yang tinggi dalam membentuk suatu masyarakat madani yang bukan sekedar hanya berjuang untuk mencapai kemakmuran tetapi, kemakmuran yang adil dan menempatkan moralitas terhadap lingkungan di atas segala-galanya untuk Makassar ta’ Tidak Rantasa’.

 

Penulis, Suci Aprilya, Esai ini merupakan karya yang dilombakan pada kegiatan Makassar Literasi Award