Makassar Kota Sehat, Makassar Kota Dunia


 

 Kota Makassar yang kini tumbuh menjadi kota besar dengan segala tetek-bengeknya, dirancang menjadi kota yang dicanang sebagai kota dunia. Pemerintah Kota Makassar telah membuat beberapa program yang mendukung visi besar tersebut, di antaranya; konsep Makassar Tidak Rantasa’ dan konsep Makassar Smart City. Kedua konsep revolusioner ini kemudian bertemu dalam detak yang sama, yakni peningkatan kualitas kesehatan warga masyarakat. Kualitas kesehatan ini bisa ditingkatkan dengan berbagai cara, seperti penyuluhan pola hidup sehat dan peningkatan kualitas pelayanan di bidang kesehatan. Ini merupakan ihwal penting yang jarang dimunculkan ke publik, sebab tak ada kota dunia (world city) di belahan bumi mana pun yang warganya ‘pincang’ dari segi kesehatan mulai dari pola hidup tidak sehat, hingga dari segi pelayanan dan teknologi kesehatannya

Pola hidup sehat sangat erat kaitannya dengan pencegahan berbagai macam penyakit. Hidup sehat diawali dengan lingkungan yang sehat. Makassar jauh-jauh hari penuh sampah yang berceceran di jalan-jalannya, kanalnya hitam selegam nasib orang-orangnya, juga lorong-lorong tidak tertata rapi sehingga menimbulkan kesan kumuh dan tertinggal. Namun beberapa tahun ini, citra tersebut sedikit demi sedikit mulai berubah, ada upaya pembenahan di beberapa bidang, terutama yang berkaitan dengan ihwal kesehatan.

Makassar Tidak Rantasa’ merupakan program ‘revolusi mental’ bagi warga Makassar untuk peduli lingkungan, misalnya pembersihan dan penataan lorong, program LISA (Lihat Sampah, Ambil) dan pengadaan mobil Tangkasaki yang lebih mutakhir ketimbang truk sampah sebelumnya. Ketiga program ini cukup efektif mengubah wajah Makassar dan pola pikir warganya. Upaya-upaya ini merupakan langkah awal yang nyata agar masyarakat terhindar dari penyakit yang bisa ditularkan melalui lingkungan jorok dan kotor, seperti diare, penyakit kulit, hingga penyakit dalam yang tergolong berat. Kota dunia sudah beres dari permasalahan sampah dan kotoran di jalanan dan di tempat-tempat umum.

Kurangnya kualitas pelayanan dan belum adanya teknologi kesehatan mutakhir menjadi salah satu masalah yang perlu diselesaikan agar tidak berlarut-larut. Beberapa tahun belakangan, sebagai bagian dari perjalanan kota anging mammiri ini, pemerintah kota Makassar memiliki support system untuk membenahi salah satu poin penting dalam menunjang Makassar Smart City, yakni pelayanan kesehatan yang canggih dan memadai.

Program Dottorotta’ Home Care merupakan salah satu upaya yang ‘mengawinkan’ konsep Makassar Smart City dengan upaya peningkatan pelayanan kesehatan dengan teknologi canggih dan memadai. Progam Dottorotta’ ini sebetulnya penyediaan beberapa unit mobil ‘ambulans’ canggih serbaguna dengan layanan 24 jam. Layanan ini bisa diakses oleh seluruh warga Kota Makassar melalui telepon 112. Saya lalu membayangkan bagaimana layanan 112 ini menjadi serupa 911 di Amerika Serikat, sebuah nomor sakti yang bisa diakses siapa pun dan dimana pun ketika hal darurat terjadi. Jika disosilisasikan dan diaplikasikan dengan baik, layanan ini bisa menjadi layanan unggulan pemerintah kota.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Makassar ini merupakan langkah-langkah riil yang menunjang perbaikan kualitas kesehatan masyarakat. Namun nampaknya, program-program ini belum cukup untuk menampung persoalan-persoalan kesehatan warga Makassar. Oleh karena itu, diharapkan beberapa stakeholder turut memberi sumbangsih riil terhadap perwujudan peningkatan kualitas kesehatan warga Makassar. Saya lalu membayangkan wajah Makassar beberpa tahun ke depan, ketika semua elemen terlibat, Makassar telah menjadi sebenar-benarnya kota dunia.

 

Penulis, Andi Batara Al Isra. Tulisan ini merupakan karya esai yang dilombakan pada kegiatan Makassar Literasi Award