Lorong Hijau Lorong Berkilau


Salah satu sisi lorong di RW XIII Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini, Makassar yang hijau dan bersih. Warga mendandani lorong hingga kesan suram, sumpek, kumuh di lorong-lorong, tak lagi nampak. Kompas/Reny Sri Ayu (REN) 08-09-2015

Di negara maju, kepedulian terhadap kelestarian alam terbentuk lebih dahulu ketimbang di negara berkembang. Walaupun demikian, banyak kota di negara berkembang yang sudah menerapkan kebijakan ramah lingkungan. Salah satunya Singapura yang memberlakukan secara ketat tentang ruang terbuka hijau dengan  membangun taman seluas 10 ha di setiap wilayah setingkat kecamatan/distrik dan seluas 1,5 ha di setiap blok apartemen atau hotel juga menerapkan peraturan yang tegas mengenai pengelolaan sampah. Di indonesia sendiri, negara yang kaya dengan kekayaan alam, di mana sumber daya alamnya yang meliputi tanah, air, udara, puspa dan satwa, tentu merupakan unsur penopang kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat yang seharusnya kita rawat sebaik-baiknya. Untuk wilayah sulawesi selatan, tepatnya di kota kelahiran saya, Makassar kini tumbuh dengan wajah yang lebih cerah dan mempesona, di mana saat di nahkodai oleh 2 anak yang lahir dari darah daeng dan tumbuh di tanah para daeng.

Dari Lorong untuk Lorong

LORONG, apa yang muncul di kepala kita saat mendengar atau membaca kata tersebut?
Ketika menuliskan ini, saya melakukan riset kecil-kecilan ke beberapa keluarga dan teman kontak di whatsapp, dari 10 kontak, jawaban terbanyak adalah “Sempit, kotor, gelap, ramai.”
Oh iya, sejak kecil, setiap liburan ke rumah nenek yang terletak pada sebuah lorong di tengah Kota Makassar tepatnya di Kelurahan Bontobiraeng, Kecamatan Mamajang, kira-kira masih SD tahun 2001 hingga lulus SMA 2012, lorong selain kotor juga masih dianggap satu tempat yang horor, pagi hingga sore memang ramai dengan banyaknya anak-anak yang berlarian, bermain bola dan permainan tradisional lainnya. Tapi ketika waktu malam telah tiba, suasana lorong kecil menjadi gelap lagi senyap, tak jarang situasi seperti ini memberi kesempatan besar terjadi tindak kejahatan (misalnya palak,dll).

Namun sejak kepemimpinan Walikota Makassar, Bapak Ramdhan Pomanto dan Wakilnya Bapak Syamsu Rizal yang mulai menjabat pada 8 Mei 2014, di mana pada awal pemerintahannya telah menyuarakan tagline Makassar ta’ Tidak Rantasa, hingga lahirlah program gerakan masyarakat; LISA (Lihat Sampah Ambil), MABELO (Makassar Bersih Lorong), MAJURONG (Majukan Lorong), dan MABASA (Makassar Bebas Sampah). Dari program-program inilah hingga tercipta inovasi yang menjadi solusi bagi 7.520 lorong di Kota Makassar dengan program LONGGAR (Lorong Garden). Di mana berkat program tersebut, lorong yang dulu horor dengan gotnya yang kotor, airnya yang bau, kini menjelma menjadi hutan kecil yang bersih berkilau dengan  beraneka ragam pohon buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman hias lainnya, tembok-tembok dilukis kreatif baik berupa gambar dan kalimat ajakan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kebersihan lorong, bahkan  ada beberapa lorong yang full sepanjang jalannya dicat warna-warni yang menambah pesona keindahan lorong. Pemerintah Kota Makassar bersama masyarakat utamanya yang tinggal di lorong, betul-betul telah bekerja sama membangun dan mengembangkan lorong dengan sebaik-baiknya hingga mengubah pandangan masyarakat tentang lorong hingga ke mata dunia. Di samping itu, PEMKOT Makassar pun dengan visinya melalui program Longgar, juga sebagai jalan untuk memperbaiki nasib masyarakat dari sektor ekonomi dengan melakukan pembinaan usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) yang diberi istilah dengan industri  anak lorong dengan cara menanam dan merawat tanaman yang menghasilkan, praktis dan ekonomis, juga adanya pembuatan berbagai macam usaha kerajinan tangan mulai dari kaleng dan botol bekas, kertas dan kain yang dipilih, dipilah lalu  diubah agar membawa berkah.

Tentu sangat banyak program inovasi dan kreasi yang tentunya memberi solusi dari PEMKOT Makassar, namun betapa pun banyaknya program pemerintah, semua akan percuma jika kita hanya menonton apalagi asik mencaci. Sekarang belum terlambat untuk bergerak, bersama membangun dan mengembangkan Kota Makassar, bukankah perubahan yang baik di mulai dari kita, diri sendiri tidak pakai tapi dan tidak pakai nanti, awalnya pakai Bismillah..

Mariki peduli..

Agar..
Makassar ta’ lestari.

 

Penulis, Rizki Baharuddin. Tulisan ini merupakan karya esai yang dilombakan pada kegiatan Makassar Literasi Award