Lorong ‘Garden’ Makassar ; Diantara Kreatifitas dan Lokalitas


 

 “Sepanjang lorong yang gelap, tempat pertemuan dengannya (D’lloyd).”

Lagu D’lloyd tersebut mengantar refleksi saya pada kondisi lorong Makassar masa kini. Bisa dipastikan tidak ada lagi lorong di Makassar yang seperi lirik lagu itu. Jangankan gelap, lorong Makassar kini takubahnya dinding taman kanak-kanak, lengkap dengan aneka tanamannya yang sengaja dibuat ceria, menarik, menyenangkan, dan indah dipandang mata. Tidak hanya itu, lorong kini juga telah berdaya.

Apa maksudnya lorong berdaya? Lorong Makassar saat ini telah menjadi penopang perekonomian masyarakat. Pemerintah Kota Makassar menggalakkan program Badan Usaha Lorong (Bulo). Praksis program ini dapat ditinjau pada aktivitas penanaman dan panen cabe masyarakat. Di Kawasan Barombong, cabe produk lorong bahkan memberi pemasukan kepada masyarakat pembudidayanya sebesar Rp7–Rp10 juta setiap panen.

Perihal lorong, Wali Kota Makassar, Ramdhan “Danny” Pomanto, memang pakarnya. Paulo Freire pernah mengungkapkan, kurang lebih seperti ini, “yang paling mengerti penindasan adalah yang pernah merasakan penindasan.

” Jika kita menarik pernyataan tersebut untuk lorong maka bunyinya seperti ini, “yang mengerti lorong adalah orang yang pernah tinggal, hidup, mengalami (di) lorong.” Ya, Danny memang lahir dan hidup di lorong, anak lorong! Karena itu, wajar!

Saya juga harus memuji program lorong Makassaar dari segi penggunaan bahasa. Bulo yang telah saya singgung sebelumnya, dalam bahasa Makassar merujuk pada ‘bambu’. Demikian pula pada penamaan ‘Longgar’, akronim dari ‘Lorong Garden’, program lorong indah, cantik, bersih tersebut. ‘Longgar’ dalam bahasa Indonesia juga merujuk pada keadaan tidak sempit atau lapang. Penamaan program tersebut menunjukkan kreativitas dalam permainan bahasa. Bahasa sebagai tanda ditautkan sehingga membentuk aneka rujukan seperti itu, ‘longgar’.

Atas kelihaian taut-menaut tanda tersebut, saya teringat pada diktum kecerdasan semiotik Yasraf Amir Piliang dan Audifax. Meski tanda yang dimaksud Piliang dan Audifax tidak hanya tanda bahasa (lingua), hemat saya, bahasa sebagai tanda adalah yang utama. Dan, kecerdasan semiotik menurut kedua intelektual ini adalah kecerdasan substansial. Tidak ada kecerdasan yang wujud tanpa kapabilitas atas tanda.

Menurut saya, atas kreativitas, kecerdasan dalam pengolahan tanda pada ‘longgar’, hal yang tampak adalah suatu yang wah. Betapa cerdasnya, menautkan tanda bahasa dan tanda realitas sosial yang berujung pada transformasi positif pada masyarakat. Tanda bahasa kreatif dan unik itu, yang bertaut dengan tanda realitas, terciptalah perubahan positif: keadaan lorong kini sebagaimana saya sebutkan sebelumnya. Sekali lagi cerdas!

Sayangnya, kreativitas dan intelegensia tingkat tinggi tersebut harus mencedarai sikap berbahasa ideal, setidaknya bagi “pihak yang sadar bahasa”. Dalam kajian Sosiolingusitik, ‘longgar’ merupakan bentukan campur kode. Bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa Inggris ‘garden’. Sikap campur kode ini sebaiknya (atau seharusnya) memilukan nurani nasionalisme kita. Terlebih, campur kode pada ‘longgar’ adalah campur kode asing (luar). Mungkin ini akan terkesan tidak penting. Akan tetapi, baiknya kita tinjau pedihnya sejarah bahasa kita ini untuk meresapi relasi nasionalisme dan fenomena  bahasa yang keji: campur kode ini.

Saya memahami jika sorotan saya kepada campur kode dinilai berlebihan atau hal tersebut dianggap tidak penting. Dari pihak kontra, pernyataan “Yang penting dimengerti”; “Ini untuk internasionalisasi”; “Lebih keren kalau pakai bahasa Inggris”, merupakan seindah-indahnya dalih untuk fenomena campur kode tersebut. Akan tetapi, Koentjaraningrat juga pernah berfatwa, perilaku selalu menyepelekan bahasa Indonesia merupakan cerminan dari sifat negatif bangsa tercinta ini. Lanjut Sang begawan ini, sifat negatif yang tercermin dalam berbahasa bangsa kita, yaitu meremehkan mutu, mental menerabas, tuna harga diri, menjauhi disiplin, enggan bertanggung jawab, dan latah. Karena itu, ah, semoga ini terpahami!

Untuk mewadahi kelihaian atau kecerdasan semiotik ‘longgar’ tersebut,  saya menyarankan penggunaan “campur kode ke dalam (lokal)”.  Ini pun jika campur kode memang harus terjadi demi mewadahi kreativitas penamaan program tersebut.  Meski demikian,  saya harus menegaskan, semua campur kode sebenarnya bermasalah.  Akan tetapi, saya berani mengatakan, campur kode ke dalam (lokal) tidak sehina campur kode asing. Campur kode ke dalam adalah pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa daerah atau bahasa yang tidak baku.

Saya menyadari bahwa ‘longgar’ dari segi kreativitas bahasa dan kesenyawaan namanya dengan dampaknya yang sudah telanjur positif sulit dielak.  Ini sama dengan “program” lainnya yang terintegrasi dengan lorong, seperti ‘Bulo’ dan ‘Mabello’. Karena itu, akronim ‘longgar’ dapat dipertahankan.

Hanya saja, kata ‘garden’ yang asing itu diganti oleh kata lain, bisa bahasa Indonesia atau pun bercampur kode ke dalam.  Misalnya, ’longgar’ merupakan akronim dari ‘lorong gagga na Makassar’. Panjang memang, tapi tidak menistai nasionalisme bahasa kita dengan adanya asing.

Terakhir, mendunia tentu tidak harus lupa Indonesia. Jangan bilang mencampur kode bahasa Indonesia dan bahas lain bukan tindakan lupa Indonesia, karena tetap ada bahasa negeri kita di sana, hehe! Sesungguhnya, mencampur kode asing merupakan tindak penistaan yang keji terhadap nasionalisme bahasa. Tugas kita adalah menduniakan Indonesia dengan menggunakan Indonesia dan memaksa dunia mengerti Indonesia. Kini, internasionalisasi bahasa Indonesia sedang digalakkan. Ini mirip dengan hasrat Makassar untuk mendunia. Semoga kita berkenan menyukseskan kedua damba mulia tersebut! Dengan menggunakan sejatinya bahasa Indonesia, dengan melanjutkan ‘longgar’, lorong Makassar yang indah dan berdaya!

 

Penulis: Zulfikar Hafid