Gengsi dan Budaya Konsumtif


llustrasi : Internet

Dibawah rezim kebudayaan kapitalis, manusia berperilaku seperti narapidana yang mencintai kerangkengnya karena tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa dicintai.”~~The0d0re Ad0rn0~~

 

Umur saya baru menginjak 22 tahun, saya telah menapaki dunia kanak-kanak yang penuh dengan kesenangan dan ketidaktahuan akan dunia, dan sekarang saya telah melewati beberapa tahun untuk memahami tentang bagaimana dunia ini berjalan.

Saya lahir dari keluarga yang berkecukupan dalam hal finansial. Itu artinya, saya cukup beruntung karena sejak kecil saya mendapatkan bermacam-macam fasilitas yang saya inginkan dari 0rang tua. Meskipun tidak semua dapat mereka penuhi. Tapi saya tetap merasa beruntung.

K0ndisi lingkungan sekitar saya pun demikian, tetangga dan anak-anak teman bermain saya. Begitu pula lingkungan sek0lah, meskipun lebih variatif, tapi may0ritas bernasib seperti saya. Kita suka berbincang tentang pr0duk-pr0duk yang baru, tidak kalah ketika berg0sip tentang siapa c0w0k tertampan di sek0lah, heb0h bukan main, semua berebut saling bicara dan saling mendengar. Demi satu cita-cita: tidak dibilang ketinggalan jaman, gaptek atau kurang gaul!. Lingkungan seperti itu yang selama ini saya hidupi. Semasa kuliah pun tak ada bedanya, bahkan lebih beringas, sekarang saya merasa dikelilingi ”papan-papan iklan berjalan”.

Bukan munafik, saya memang tidak men0lak mentah-mentah tekn0l0gi beserta perangkatnya, tapi saya sama sekali tidak tertarik untuk harus memiliki setiap varian tekn0l0gi terbaru, apalagi kalau harus menuruti barang-barang yang tidak memberikan fungsi esensial apapun, selain hanya menguras isi d0mpet.

Saya punya teman yang tidak ingin kalah dalam ‘perang’ gengsi, ia tidak suka memiliki barang yang sama atau lebih rendah dari teman-temannya. Saya benar-benar tidak habis pikir melihat tingkah p0la semacam ini. Tapi kenyataannya masyarakat kita sekarang memang seperti ini, bukan perilaku yang langka. Kita hidup di dunia dimana perl0mbaan menumpuk barang-barang (bermerek) tidak b0leh kalah dengan ikhtiar menumpuk pahala, bahkan terlihat lebih gencar, dan nampaknya kita bahagia dengan menjalani itu semua.

Tunggu, benarkah kita bahagia? Akankah kita puas?

Sebelum masa rev0lusi industri, 0rang-0rang pada umumnya hanya memiliki beberapa pakaian sebagai cadangan, atau apabila ia cukup sejahtera, juga memiliki segelintir pakaian yang digunakan untuk acara tertentu.

Lalu, dimasa sekarang? Tahukah kata apa yang dipakai 0rang-0rang untuk menyebut gaya hidup semacam itu?

Kemiskinan!

Ir0nis memang, tapi seperti itulah realitanya. Saat ini p0la k0nsumsi menjadi lebih k0mpleks, ia bukanlah sekedar upaya untuk memenuhi kebutuhan p0k0k dalam rangka bertahan hidup, tapi lebih dari itu, ia menawarkan nilai atau imaji-imaji yang membuat 0rang mendapatkan sesuatu lebih dari sekadar ‘0bjek’ yang dik0nsumsinya. Sederhananya, ketika kita membeli m0bil mewah maka secara 0t0matis kita juga akan mendapat b0nus berupa prestise atau pengakuan dari masyarakat bahwa kita adalah g0l0ngan 0rang berpunya, dan dengan segera akan mengikat lebih banyak 0rang lalu membuat mereka iri. Sehingga 0bjek yang kita beli lebih kefungsi sebagai ‘alat’ untuk memperkuat status s0sial.

Bagi kelas-kelas masyarakat yang memiliki daya beli tinggi, mungkin k0nsumsi artinya membeli sesuatu yang tidak memiliki esensi, jauh dari nilai guna.inilah hasrat dan kegairahan yang kita hidupi. Segala perilaku k0nsumsi mulai kehilangan makna akibat keganasan pr0ses k0nsumsi itu sendiri yang selalu memaksa kita untuk terus membeli, membeli, dan membeli.

Kita rela mengantri dan membayar untuk sebuah gengsi. Kita rela mer0gih g0cek lebih dalam demi barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan.

Pena Fafa

Saya punya beberapa tulisan yang membahas tentang budaya k0nsumtif, yang saya bahas lebih k0mpleks dan gamblang. Selanjutnya pula saya akan membahas bagaimana kapitalis memengaruhi p0la pikir kita (k0nsumen) sebab apa yang sesungguhnya kita k0nsumsi tidak lepas dari k0rporasi-k0rporasi mereka. Keuntungannya untuk siapa? Tentu saja untuk mereka. Kita (pembeli) bukan raja, tapi kita (k0nsumen) adalah budak. Tulisan diatas dari hasil baca saya, banyak-banyak saya kutip dari buku dan tulisan-tulisan penulis lain. Saya merasa perlu membaginya kepada kalian. setidaknya akan ada segelintir 0rang yang menyadari bahaya dari budaya k0nsumtif ini. Kita tak akan bisa lari dari dunia seperti ini, tapi kita ada kesempatan untuk memilih. Memilih untuk larut didalamnya atau  men0laknya.

Sejujurnya saya lebih suka menulis puisi dan pr0sa ketimbang tulisan seperti ini. Jadi selanjutnya mungkin kalau saya mengangkat t0pik ini lagi, saya akan tulis dalam bentuk puisi.

———————————————————————————————————————

0h iya, kalian mungkin menyadari ada huruf yang kelihatan ganjil-huruf ‘0’. Maaf, keyb0ard lapt0p saya rusak, belum saya ganti, karena lapt0p ini masih sangat sangat layak pakai. Kembali lagi, saya men0lak kebengisan budaya k0nsumtif sekarang. Hehe. Dan juga saya capek pakai keyb0ard virtual (yang 0rang biasanya pakai kalau keyb0ard eksternalnya rusak).