Duo Srikandi: Harapan Kaum Perempuan


Tanggal 8 Maret merupakan hari istimewa bagi kaum perempuan, sebab hari ini hari perjuangan perempuan yang diperingati tiap tahunnya. Momen ini merupakan hari perempuan internasional, sehingga diperingati berbagai negara dengan cara masing-masing. Awalnya peringatan ini merupakan dari simbol perlawanan kaum perempuan. Dimana memasuki periode 1900-an di Amerika dan Eropa muncul fenomena ekspansi industri yang marak terjadi, termasuk melibatkan kaum perempuan.

Pelibatan kaum perempuan ternyata tidak sedikit yang menimbulkan perlakuan yang tidak adil dan pelecehan. Sehingga memunculkan kelompok-kelompok yang merasa resah dan debat kritis yang mengakibatkan lahirnya organisasi-organisasi perempuan atau organisasi wanita. Organisasi inilah yang nantinya menjadi pelopor lahirnya gelombang protes yang begitu besar.

Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari 1909 di New York, Amerika Serikat (AS) dan diselenggarakan oleh Partai Sosialis AS. Akan tetapi, gelobang yang lebih besar dilakukan kaum perempuan yakni demonstrasi pada tanggal 8 Maret 1917 yang dilakukan oleh para perempuan di Petrograd memicu terjadinya Revolusi Rusia. Hari Perempuan Internasional secara resmi dijadikan sebagai hari libur nasional di Soviet Rusia pada tahun 1917, dan dirayakan secara luas di negara sosialis maupun komunis.

Kemudian perjuangan kaum perempuan mendapat perhatian serius dari berbagai negara, sehingga pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan. Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadikan sebagai acara resmi untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Meski di dunia barat, perjuangan kaum perempuan telah lama mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Kondisi berbeda dirasakan bagi kaum perempuan yang menghuni dunia bagian timur, sehingga peran kaum perempuan barulah nampak beberapa periode setelahnya.

Hal yang sama juga dirasakan kaum perempuan di Indonesia. Nanti setelah kedatangan bangsa barat di Indonesia, memberikan pengetahuan baru tentang bagaimana kaum perempuan dapat melibatkan diri dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga muncullah beberapa tokoh yang kita kenal hingga hari ini, seperti Kartini, Dewi Sartika, dan tokoh lainnya yang pernhah berjuang di tanah jawa. Di Aceh, muncullah tokoh seperti Cut Nya Dien, Cut Meutiah, dan tokoh lainnya. Begitu pun di Maluku, muncullah tokoh semisal Christina Martha Tiahahu, dan tokoh lainnya. Di Sulawesi Selatan, muncullah sosok pejuang semisal Opu Daeng Risaju dan lain sebagainya. Dan masih banyak tokoh lainnya yang pernah mengisi perjalanan bangsa Indonesia di era perjuangan bangsa dan negara.

Setelah kemerdekaan peranan kaum perempuan semakin besar dalam berbagai aspek kehidupan. Bukan hanya melulu soal perjuangan secara fisik, namun pelibatan diri dan menjadi penentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini sangat nampak, ketika untuk pertama kalinya Bangsa Indonesia dipimpin oleh sosok perempuan bernama Megawati Soekarno Putri. Anak dari bapak proklamator bangsa Indonesia. Tentu, hal tersebut menjadi pembeda dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sehingga, kaum perempuan tidak lagi minder atau kurang percaya diri dalam melibatkan diri dalam berbagai persoalan bangsa.

Justru hal tersebut semakin memacu semangat kaum perempuan dalam memperjuangkan nasibnya. Termasuk pada persoalan memilih jodoh, maka tak sedikit yang mengangap sekarang bukan lagi zaman Sitti Nurbaya sosok perempuan dari tanah minang yang mengalami kegetiran hidup dalam percintaan.

Memasuki era milenial, masalah yang dihadapi kaum perempuan semakin kompleks. Olehnya, tidak sedikit yang melibatkan diri dalam memperjuangkan hak-haknya. Tidak lagi melulu menjadi pelengkap dalam perjalanan bangsa dan negara. Akan tetapi, telah memasuki ranah pembuat kebijakan dan penentu kebijakan. Dimana sebelumnya, hanya menyentuh persoalan pendidikan, semisal menjadi guru atau dosen, dan aspek lainnya.

Melihat perkembangan dan kompleksitas itu, kaum perempuan telah banyak melibatkan diri dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk dalam kehidupan politik dan pemerintahan. Misalnya, dengan masuk dan aktif sebagai anggota legislatif, ataupun aktif dalam pemerinatahan seperti jadi kepala daerah. Melihat kondisi itu, mengahapi pemilihan Walikota Makassar Juni mendatang. Tentu tidak asing bagi kita, dua sosok perempuan yang maju sebagai Wakil-Walikota Makassar, yakni Indira Mulyasari dan Rachamtika Dewi.

Majunya kedua sosok Srikandi Nasdem tersebut merupakan simbol kekuatan kaum perempuan di Kota Makassar. Sebab, disana banyak harapan kaum hawa yang mesti diperjuangkan ketika terpilih menjadi wakil rakyat di pemerintahan. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kedua tokoh tersebut mencanangkan program yang pro terhadap kaum perempuan. Misalnya program yang tepat bagi ibu hamil dan menyusui, atau program khusus angkutan umum bagi kaum perempuan. Dan tentunya masih banyak alternatif program lain yang tepat dan sesuai dengan kaum perempuan. Sebab, yang paham terhadap kebutuhan kaum perempuan yah perempuan itu sendiri. Sebagai kaum adam, kita hanya bisa mengamati gejala yang ada.

Mari kita nantikan gebrakan-gebrakan kedua sosok perempuan dalam Pilwalkot Makassar.