Demokrasi Anak Lorong!


Danny Pomanto Kukuhkan 5.970 RT/RW se-Kota Makassar 2017 lalu

Oleh : Arman Zul Asman*

MakassarBicara.com-Demokrasi bukannya semakin membaik, namun sepertinya dilanda ketidak pastian, proses demokrasi seolah-olah tergadai untuk memuluskan kepentingan pihak tertentu dan diraih dengan berbagai cara. Bagi yang tidak sejalan, maka dianggap tak demokratis.

Sebagai contoh, tokoh-tokoh elit yang turun tangan hendak memenangkan salah satu kandidat, dengan membawa slogan kebohongan tak layak diteruskan, bahkan beberapa diantaranya berupaya melakukan kriminalisasi. Mereka menegaskan bahwa pihaknya mengajarkan demokrasi yang baik bagi masyarakat. Mereka turun ke lorong-lorong, mengabarkan demokrasi harus tegak tanpa kebohongan atas keberhasilan semua.

Tapi mereka lupa, bahwa yang mereka serang adalah peletak dasar demokrasi di tengah lorong. Masih ingat, pemilihan RT RW pada tahun 2017 silam? Demokrasi yang dibangun dari akar rumput, bukan demokrasi milik kaum elit.

Berdasarkan Data Bagian Pemberdayaan Masyarakat Kota Makassar terdapat 256.893 kepala keluarga yang tersebar di 15 kecamatan, memiliki hak suara dalam menentukan siapa kepala Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW), yang digelar serentak se-Kota Makassar.

Setidaknya saya memilki tiga alasan mengapa program ini, perlu mendapat respon positif dari berbagai elemen masyarakat. Pertama, program ini adalah proses pembelajaran demokrasi yang ril dan langsung menyentuh akar rumput. Saya menilai ada pembelajaran moril berdemokrasi yang baik. Ini adalah isyarat, demokrasi di Kota Makassar akan bertumbuh dengan baik.

Jika masyarakat sudah lihai berdemokrasi pada level yang terkecil, maka mereka akan semakin terbiasa pada level yang besar. Sehingga kesadaran mereka akan pentingnya demokrasi dan menentukan pilihan tanpa money politik akan dilakukan secara sadar.

Kedua, sistem kampanye yang dilaksanakan hanya bisa melalui media online. Kampanye terbuka yang mengundang massa dalam jumlah banyak, memasang umbul-umbul, memasang baliho, hingga memasang poster dilarang. Hal ini menunjukkan bahwa Wali Kota Makassar melalui Perwali yang mengatur Pemilihan RT/RW serentak ini, sangat menginginkan warganya dapat berdemokrasi santun di dunia maya, sebab melalui dunia maya semua akan terpantau dengan baik, siapa yang berdialektika dan siapa yang menghujat. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa sebentar lagi Makassar betul-betul menjadi kota Smart City, dimana warganya mengerti dan paham penggunaan media sosial dengan baik.

Ketiga, membangun mental kaderisasi pemimpin dari bawah. Bahwasanya, pemimpin bukan lahir dari kalangan tertentu dan orang tertentu, melainkan pemimpin lahir dari proses yang ditempuh dari bawah. Pemimpin tidak hanya lahir dari glamournya kaum elit, sudah saatnya pemimpin lahir dari sepinya dan sempitnya lorong, namun kaya akan gagasan. Pemilihan RT/RW serentak ini merupakan momentum mengasah ide dan gagasan warga agar terlibat membangun daerahnya, serta memiliki beban moril mewujudkannya.

Dan, ketiga poin diatas merupakan semangat demokrasi yang sudah turun temurun, bukan hanya demokrasi parlementariat, bukan hanya demokrasi liberal, bukan hanya demokrasi terpimpin, bukan hanya demokrasi pancasila. Inilah demokrasi anak lorong!

 

*Penulis adalah pemerhati lorong