Dari Lorong, Wujudkan “Smart City” Ramah Anak


Oleh : Ona Mariani*

 

Makassar adalah kota yang tak pernah tidur layaknya kota-kota besar yang ada di belahan bumi lainnya seiring dengan predikat metropolitan yang disandangnya. Kemajuan kota ini dapat dilihat melalui pembentukan regulasi-regulasi yang dibentuk secara variatif oleh pemerintahnya untuk mendukung tumbuh kembang kota yang telah menjadi pertemuan berbagai etnis suku bangsai ini.

Setelah mendeklarasikan diri menuju kota dunia di bawah kepemimpinan Danny Pomanto, sejumlah kebijakan pun turut hadir mewarnai penyelenggaraan pemerintah kota Makassar dalam mewujudkan terselenggaranya kota dunia dengan mengusung konsep “Sombere’ & Smart City”  yang salah satunya melalui program pembenahan tata lorong.

Seperti yang kita tahu pada umumnya konsepsi tentang lorong di kota metropolitan merupakan jalanan sempit yang cenderung gelap ketika malam, banjir ketika hujan, dan jalanan yang dibatasi oleh dinding dengan coretan sana-sini oleh sekelompok oknum yang tak bertanggung jawab. Berbekal pengalaman masa kecil yang tumbuh di salah satu kawasan lorong di jalan Amirullah, alumnus Fakultas Teknik Unhas ini memulai langkahnya membangun kota dunia melalui pemberdayaan lorong.

Program yang kemudian menjadi salah satu andalan diantara program pemerintah lainnya: Makassar Home Care, War Room Makassar, Makassar Smart Card, Makassar Care and Rescue Centre (CARESTER), adalah  pendongkrak ekonomi masyarakat ibu kota provinsi Sulawesi Selatan itu melalui BULO (Badan Usaha Lorong) dengan komoditi utama cabai sebagai tanaman yang dibudidayakan oleh warga yang tinggal di dalam lorong. (Bagooli.com)

Menyadari bahwa membangun masyarakat dalam kemandirian ekonomi saja tidaklah cukup dalam menciptakan “Smart City”, melainkan  dibutuhkan pula adanya sebuah kondisi lingkungan yang nyaman, aman, mendidik serta ramah dalam menjalankan aktivitas sehari-hari untuk seluruh  warganya tak terkecuali anak-anak — kelompok yang dianggap rentan terhadap perebutan ruang sosial oleh orang-orang dewasa – sering terabaikan dalam sejumlah pembentukan regulasi yang berujung pada beberapa permasalah sosial diantaranya pelecehan seksual , korban penculikan dan perdagangan, permasalahan kesehatan karena permukiman kumuh, keterbatasan akses pada pelayanan umum bagi mereka yang berkebutuhan khusus, yang tentu  sangat bertentangan dengan penjelasan umum UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa anak adalah amanah Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga  karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi, serta  Konvensi Hak Anak pasal 27 yang menegaskan bahwa mereka berhak atas kehidupan untuk pengembangan fisik, mental, spiritual, dan moral dengan tersedianya lingkungan yang ramah.

Memaknai hal yang demikian ini sudah semestinya diperlukan adannya perhatian pemerintah dalam perencanaan tata ruang kota dengan memperhatikan porsi anak-anak. Bukankah kembali pada definisi konsep Sombere’ yang berarti ramah di dalam bahasa Makassar perlu ditafsirkan ulang ketika terdapat hak-hak warga kota yang tak terpenuhi di dalam proses pembangunan kota yang tengah merintis dirinya menjadi kota dunia itu?

Dari Lorong Menuju Kota Ramah Anak

Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk di kota ini setiap tahunnya, secara tidak langsung akan turut menuntut perubahan tatanan lingkungan yang ada tak terkecuali bentuk permukiman penduduk. Dibandingkan dengan pedesaan dengan pola pemukiman yang linier dimana setiap penduduk bermukim di sepanjang jalan utama atau dikenal dengan The Arranged Isolated Farm type yang kecil kemungkinan akan terbentuk lorong, kota Makassar yang cenderung padat penduduk memiliki pola permukiman mengelompok serta memusat dengan jarak antar bangunan yang berdekatan  sehingga memungkinkan terbentuknya banyak lorong.

Jalanan dengan ukuran tertentu atau lorong ini yang kemudian menjadi akses  masyarakat untuk saling berinteraksi satu sama lain di dalam kehidupan sehari-hari, tak terkecuali mereka anak-anak yang menjadikan tempat ini sebagai halaman bermain bagi mereka yang tinggal di sekitar lorong karena tidak adanya halaman rumah yang cukup untuk digunakan sebagai arena bermain di perkotaan.

 Seolah ingin menepis stigma lorong yang ada di dalam pikiran masyarakat yang dipandang sebelah mata, Danny Pomanto melalui program penataan ulang  lorong  mencoba untuk menyulap lorong-lorong yang ada di Makassar menjadi wilayah yang lebih sombere’  alias ramah bagi masyarakat sekitar untuk beraktivitas di siang atau malam hari.

Di dalam penataan lorong ini terdapat tiga tahapan: Pertama adalah lorong bersih atau lorong ceria namanya, kedua Lorong Garden (Longgar),  ketiga Singara’na lorongku (lorong yang terang), dan keempat adalah industry lorong dengan cabai sebagai komoditas utamnya. ( Detik.com)

Memperhatikan keempat program pemerintah di atas, secara tidak langsung pemerintah telah memberikan porsi  anak dalam pembangunan tata kota. Hal ini dapat dilihat pada upaya pemerintah untuk menciptakan lorong yang terang pada malam hari melalui program Singara’na lorongku sehingga menjamin keamanan ketika anak-anak bermain di luar,  selanjutnya karikatur-karikatur dinding yang mengedukasi dengan beberapa tulisan peringatan untuk  senantiasa menjaga kebersihan lingkungan dan budidaya tanaman tertentu sebagai media utama anak-anak mencintai kegIatan menanam sejak dini, merupakan sekian dari banyak hal yang dapat kita lihat di lorong percontohan yang terletak di jalan Pettarani 2 Kelurahan Tamamung Kecamatan Panakukang yang telah menjadi binaan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar  yang didapuk sebagai  lorong ramah anak, lorong bebas KDRT , serta lorong anak sholeh (kla.id)

Melalui berbagai program pembenahan tata lorong ini, pemerintah Makassar membuktikan sumbangsihnya dalam membangun kota yang yang ramah anak. Terbukti dengan kembali meraih penghargaan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) RI, sebagai kota Layak Anak Tingkat Madya di acara Puncak Anak Nasional, yang dipusatkan di Pekanbaru tahun 2017. (RakyatSulsel.com)

Setelah Lorong Apa Lagi?

Menciptakan kota ramah anak tentu memerlukan kerjasama berbagai pihak tanpa terkecuali masyarakat . Melalui pembenahan dan budidaya lorong pemerintah Makassar telah berhasil menciptakan lingkungan yang ramah anak di sekitar tempat tinggal mereka. Namun yang perlu kita ingat bahwa bahaya yang mengancam  anak-anak tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah  atau tempat tinggal mereka namun juga tempat-tempat umum lainnya.

Meningkatkan pendidikan umum dan penyuluhan visi baru untuk anak, advokasi program dalam memperkuat jaringan dan sistem untuk anak-anak berkebutuhan khusus, mendengar persoalan dan meyelediki keluhan dengan meningkatkan pelayanan konseling terhadap anak dan remaja, demonstrasi peran anak dalam keterlibatannya dalam pengambilan keputusan di tingkat lokal,  menjamin ruang bebas ekspresi untuk anak, mempertimbangkan aspek keamanan di dalam  setiap pembangunan fasilitas-fasilitas  publik seperti jalan raya, jembatan penyebrangan, sarana-sarana rekreasi , halte bus yang seyogyanya juga perlu diperhitungkan dalam menjamin hak-hak anak dalam penggunaan fasilitas umum terutama bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Pemasangan kamera pemantau  atau memasang pamphlet peringatan dapat menjadi pilihan untuk menekan angka kriminalisasi terhadap anak adalah sekian banyak hal yang seyogyanya dapat dilakukan oleh pemerintah Makassar ke depan.

Selain itu, pemerintah Makassar juga dapat mengadopsi konsep dari beberapa kota di dunia  yang telah berkomitmen dalam menciptakan kota ramah anak seperti Calcutta di India dengan program CLPOA (City Level Program of Action For Street And Working Children) yang berfokus pada program aksi tingkat kota untuk anak jalanan dan pekerja anak dimana dikoordinir oleh badan pusat yang beranggotakan perusahaan, departeman pemerintah, aparat, UNICEF, asosiasi dokter, dan 50 lembaga non pemerintah dengan inovasinya menciptakan polisi ramah anak dan pendidkikan untuk semua anak Calcutta, atau Queensland di Australian dengan program “Parlemen Remaja” dimana suara seorang anak dihitung sebagai satu suara warga negara dalam memberikan nasihat pada kebijakan-kebijakan pemerintah terkait anak dan remaja.

Sekali lagi perwujudan dari kota yang ramah anak merupakan gambaran kota yang manusiawi dengan memperhatikan mereka yang paling rentan di antara lapisan sosial yang ada. Memperhatikan mereka adalah sama halnya dengan memperhatikan calon pemimpin negara ini di masa yang akan datang. Sebagai langkah awal kita hanya perlu memandang kembali anak-anak sebaga warga negara lainnya yang juga  memiliki hak-hak  yang sama dimana telah diatur di dalam Undang-undang.

 

Penulis adalah mahasiswa ilmu Politik Universitas Hasanuddin, aktif di  Lingkar Mahasiswa Islam untuk Perubahan (LISAN) Cab Makassar berfokus pada isu-isu perempuan dan anak.