Danny Pomanto, DIAMI dan Solidaritas Kolom Kosong


Oleh
: Ahmad Sangkala*

MakassarBicara.com-Panggung
politik adalah panggung yang sulit ditebak. Mungkin hari ini bersama, besok
berpisah. Mungkin hari berkoalisi, besok berlawanan. Hari ini komitmen, besok
saling menghianati. Hanya satu yang selalu sama pada panggung ini, yakni
kehendak berkuasa.

Begitulah
politik, semuanya menjadi tidak pasti. Walaupun sebenarnya, model politik
brutal seperti ini hanya ditemukan di negara – negara berkembang. Sebab pada
hakikatnya politik itu untuk kebaikan, setidaknya dua hal sebagai proses
pemilihan pemimpin daerah yang berkualitas serta melibatkan masyarakat memilih
pemimpin sesuai keinginannya.

Panggung
politik yang lebih kita dikenal di masyarakat dengan istilah pemilihan umum
(pemilu) dan pemilihan kepala daerah (pilkada) Walaupun dicaci, tapi selalu
menarik untuk dibicarakan. Bahkan dinantikan oleh banyak orang. Salah satu yang
awalnya dianggap sepi yakni Pilwalkot Makassar 2020. Lantaran pada pilwalkot
2018 lalu, kolom kosong mengungguli pasangan Munafri Arifuddin – Rahmatika
Dewi. Sehingga pilwalkot harus kembali diulang pada pilkada serentak 2020.

Bukannya
sepi, malah banyak pendatang baru yang bermunculan. Mereka seperti membawa
spirit baru demokrasi Makassar. walaupun belakangan, survei menunjukkan yang
memiliki peluang besar untuk memenangkan Pilwalkot ini masih di warnai wajah –
wajah lama seperti Danny Pomanto, Syamsu Rizal, Munafri Arifuddin dan Irman
Yasin Limpo. Dari keempat nama ini tentunya memiliki kekuatan dan jejaring
masing – masing.

Hal
yang selalu menjadi kunci kemenangan yakni solidaritas tim. Diantara keempat
kandidat tersebut, tiga diantaranya ikut meramaikan pilwalkot 2018. Dimana
Danny Pomanto berpasangan Indira mulyasari dengan tagline DIAMI namun digugurkan
oleh KPU, selanjutnya pasangan Munafri Arifuddin berpasangan Rahmatika dewi
dengan Tagline APPI CICU ini harus menerima kekalahan dari kolom kosong. Adapun
pasangan Syamsu Rizal berpasangan Iqbal Jalil dengan tagline DIAJI tidak
mendapatkan tiket partai untuk bertarung. Adapun Irman Yasin limpo masih harus
menyolidkan kembali jejaring klan Yasin Limpo pasca IYL kalah di pilgub Sulsel.

Ketiga
pasang ini sepertinya tak lagi solid. Syamsu Rizal kembali dengan massif
bersosialiasi sebagai calon walikota, begitu pun Iqbal Jalil juga menarget
calon walikota. Munafri Arifuddin juga semakin massif bersosialisasi, begitu
pun Rahmatika Dewi (cicu) sempat melakukan sosialisasi sebagai calon walikota,
walaupun akhirnya sepertinya akan memilih fokus di DPRD Suslel. Begitu pun
Danny Pomanto, Massif melakukan sosialisasi sebagai calon walikota, bedanya
Indira Mulyasari tak lagi melakukan sosialisasi. Di beberapa momen, keduanya
terlihat harmonis.

Hal
ini jelas menguntungkan Danny Pomanto, dengan masih solidnya tim yang dibentuk
pasangan DIAMI pada pilwalkot 2018 lalu. Tim ini teruji dengan mampu
memenangkan kolom kosong pada pilwalkot lalu. Hal ini sebagai penegasan Danny
Pomanto Pasca digugurkan KPU. Dimana berdasarkan Di beberapa media tertanggal
(3/6/2018) mengatakaan bahwa Danny Pomanto berada di barisan kotak kosong untuk
melawan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu). Adapun
simpul-simpul pendukung DIAMI  bergerak
secara massif melakukan sosialisasi kotak kosong.

Sejauh ini, simpul – simpul DIAMI yang bekerja untuk kolom kosong masih solid bersama Danny Pomanto. Maka hal yang wajar, walaupun sudah setahun tak menjabat. Elektabilitas Danny Pomanto masih tertinggi di kota Makassar. hal ini menandakan bahwa jejaring yang berada di belakang Danny pomanto adalah jejaring yang memiliki solidaritas utuh untuk Makassar dua kali tambah baik, jejaring yang tak sepakat untuk jangan biarkan Makassar mundur lagi.

Solidaritas
ini tentu menjadi modal utama untuk memenangkan pilwalkot Makassar, jangan
biarkan jejaring ini terlalu lama menunggu, saatnyami Welcome back Danny
Pomanto.