Danny Pomanto dan Sombere’ yang Mendunia


Danny Pomanto saat berselfie bersama Menteri Pertahanan sekaligus Menteri Luar Negeri Singapura

Oleh : Ahmad Sangkala*

MakassarBicara.com-Kearifan
lokal adalah kekayaan yang dimiliki oleh setiap suku bangsa. Kearifan lokal ini
tentunya tak serta merta  bisa digerus
oleh kemajuan teknologi.  Walaupun dari
banyak kejadian, generasi muda tak lagi peduli dengan tradisi dan kearifan
lokal di daerahnya masing – masing. Hal inilah yang mengancam kepunahan tradisi
dan kearifan lokal daerah.

Kearifan lokal pada dasarnya adalah kepribadian masyarakat secara utuh. Sehingga jika digali lebih mendalam akan lebih mudah menyentuh hati dan keinginan masyarakat. Namun ini bisa terwujud jika kearifan lokal itu bisa ditafsirkan kembali sesuai dengan kondisi saat ini.  kearifan lokal ini kan erat kaitannya dengan nilai, sehingga hal ini bisa di kemas dengan model yang lebih milenial dan modern. Hal ini sangat menunjang pelaksanaan kebijakan pemerintah,  jika bisa dikolaborasikan dengan kearifan lokal.

Walaupun tidak mudah, namun hal itu tak berarti
mustahil. Danny Pomanto mampu melakukan itu. 
Dalam menjalankan kebijakan dan programnya selama menjabat walikota
Makassar, semuanya dikolaborasikan dengan kearifan lokal. Seperti penggunaan
istilah lokal Makassar untuk setiap program yang dibuat misalnya Dottorotta’ untuk bidang kesehatan,
mobil pengangkut sampah dengan istilah Tangkasaki’
dan berbagai program lainnya.  Bahkan
dalam menjalankan program yang paling diunggulkan juga mengikutkan nilai
kearifan lokal yakni Sombere Smart City.

Danny Pomanto (2019) mengatakan bahwa istilah  Sombere Smart City digunakan tanpa meninggalkan budaya lokal.

Secanggih apa-pun robot,  tapi tidak mempunyai hati, konsep inilah yang dicoba disusun dengan sistem smart city yang berbeda dari yang lain.

Penjelasan ini  tentu lebih menekankan pentingnya menerapkan nilai – nilai kearifan lokal pada kebijakan yang dirumuskan pemerintah.

Adapun kaitan
antara sombere dan smart city selanjutnya dijelaskan Danny Pomanto pada saat mendapatkan undangan
dari Kementerian Luar Negeri Singapura pada Program SR Nathan Fellowship
(7/1/2020). Dimana salah satu yang dijelaskan terkait keberhasilan program sombere smart city.  Berbicara Smart City artinya
berbicara tentang Hardware and Software. Tetapi Sombere adalah Heartware
(hati). Begitulah metode pendekatan untuk menyentuh hati masyarakat. Karena
jika tidak, maka masyarakat akan menganggap teknologi itu sebagai sesuatu yang
mengerikan.

Pada agenda ini selain dari pertemuan
yang disebutkan, Danny Pomanto juga melakukan sharing dengan lembaga-lembaga
Singapura tentang masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama Singapura dan
Makassar, seperti pengembangan ekonomi dan pariwisata, perencanaan kota pintar,
dan mitigasi perubahan iklim. Selama 4 hari Danny Pomanto  bertemu 4 Menteri dan Pejabat Negara setingkat
Menteri di Singapura secara khusus. Danny bertemu dan berbagi informasi dengan
Menteri Senior Negara (Pertahanan) (Luar Negeri) Dr Maliki Osman, Menteri
Senior Negara (Transportasi) (Komunikasi & Informasi) Dr Janil Puthucheary,
Sekretaris Parlemen Senior (Dalam Negeri) (Kesehatan) Amrin Amin, dan
Sekretaris Parlemen Senior Dr Tan.

Sombere  smart city yang dipresentasikan
oleh Danny Pomanto di Singapura tentunya tak sekadar memperkenalkan sistem
smart city yang diterapkan, tetapi juga memperkenalkan Sombere sebagai kearifan
lokal yang mampu memudahkan program ini diterima dan  diimplementasikan oleh masyarakat.

Tentunya, walaupun banyak orang yang masih saja mempersoalkan soal Danny
Pomanto putra Makassar atau tidak, yang jelasnya Danny Pomanto telah membawa
kearifan lokal Makassar mendunia. Bagaimana pun, sebenar – benar kecintaan kita
pada sebuah daerah harus dibuktikan dengan karya. Danny Pomanto telah
melakukannya, mari terus bersamanya membuat Makassar dua kali tambah baik.