Danny Pomanto dan Pilihan Bersama Rakyat


Danny Pomanto [sumber gambar : metrotimur]

Oleh : Ahmad Sangkala*

MakassarBicara.com-Demokrasi
adalah sistem yang memberikan ruang banyak rakyatnya untuk menaentukan sendiri
pemimpinnya, menentukan sendiri kebijakannya serta menentukan seperti apa masa
depan daerahnya. tapi itu konteks ideal, nyatanya praktek demokrasi kita masih
di warnai oleh gaya “koboy” para politisi yang ditunggangi oleh para oligarki
politik.

Wajah
demokrasi kita tentu dicederai oleh banyak hal, sebut saja “mahar parpol”, money politik maupun “begal parpol” yang
sering di pertontonkan oleh elit politik partai saat ini. pola seperti ini
membuat banyak figur yang memiliki gagasan dan kapasitas membangun kota/daerah
tidak dapat memperoleh tiket bertarung di pilkada. Belum lagi ditengah besarnya
biaya politik, kalau pun akhirnya beruntung mendapatkan kendaraan baik partai
maupun independen, tetap saja sulit memenangkan pertarungan jika hanya
mengandalkan kapasitas kepemimpinan semata.

Kebrutalan politik di pemilihan walikota Makassar 2018 lalu tentunya berakhir manis. Rakyat Makassar menciptakan sejarah baru, mengusung calon independen berhadapan dengan kandidat yang “memborong parpol”. Walaupun akhirnya didiskualifikasi, namun kekuatan rakyat terbukti bisa membendungnya. Pasangan yang diusung parpol pada saat itu kalah oleh kolom kosong yang diusung oleh rakyat Makassar. elit politik tersentak, rakyat bersorak gembira.

Peta
politik Makassar 2020 awalnya memberikan sedikit pengharapan. Pasca kolom
kosong unggul 2018 lalu, muncullah figur – figur baru yang siap maju sebagai
calon walikota Makassar. sebut saja Abdul Rachmat Noer, Fadli Ananda,
Syarifuddin Daeng Punna, Ismak, Julianti Noor dan beberapa nama – nama
pendatang baru lainnya. Namun gencarnya sosialisasi semenjak awal 2019 lalu
ternyata tak memberikan efek signifikan.

Diakhir
2019, hasil dari berbagai lembaga survei menunjukkan bahwa belum ada pendatang
baru yang memiliki angka popularitas maupun elektabilitas yang signifikan untuk
bertarung. Berdasarkan hasil survei Celebes Research Center yang dirilis
November 2019 menunjukkan hanya 4 kandidat yang memiliki elektabilitas diatas 4
% untuk simulasi 13 nama yakni Danny Pomanto (48%), Syamsu Rizal (14,5%),
Munafri Arifuddin (10 %), Irman Yasin Limpo (5,0%)  dan nama – nama lainnya. Hasil survei ini
menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Setidaknya keempat nama ini menjadi
perbincangan hangat dengan kekuatan porosnya masing – masing.

Ditengah
perburuan partai, setidaknya kondisi pilwalkot 2018 lalu sepertinya mulai
berbalik. Dimana di 2018, Munafri Arifuddin mampu memborong partai politik.
Sepertinya di 2020 justru berbeda. Dari 6 partai besar yang telah merampungkan fit and profer testnya ditingkat
provinsi, semua partai mengusung nama Danny Pomanto. Berikut ini rinciannya
Partai Golkar mengirim nama Danny Pomnato, Irman Yasin Limpo dan Syamsu Rizal.
Partai keadilan sejahterah (PKS) mengirim nama Danny Pomanto, Munafri Arifuddin
dan Syamsyu Rizal. Partai Gerindra mengirim nama Munafri Arifuddin dan Danny
Pomanto. PDIP mengirim nama Danny Pomanto dan Irman Yasin Limpo. Partai Nasdem
mengirim nama Danny Pomanto dan Irman Yasin Limpo. Dan PAN mengirim nama Irman
Yasin Limpo dan Danny Pomanto. nama – nama ini telah dikirim ke DPP partai
masing – masing untuk selanjutnya diputuskan siapa yang akan diusung.

Membaca persentase ini tentunya bisa menggambarkan Danny Pomanto memiliki peluang terbuka lebar untuk mendapatkan kendaraan dari partai politik. Meski demikian, namun Danny Pomanto tetap memberi ruang gerakan yang dilakukan simpul masyarakat yang bergerak mengumpulkan KTP untuk mendukungnya maju melalui jalur independen. Menurut informasi yang beredar, Danny Pumanto telah mengumpulkan KTP dukungan untuk jalur independen sampai 150.000 sah. Ini sudah jauh melampaui syarat minimal yakni 72.570.

Dua jalur ini tentunya sama – sama
memberikan ruang yang besar untuk Danny Pomanto bertarung di pilwalkot 2020
mendatang. Tapi ini juga tak membuatnya lupa diri, Danny merasakan bagaimana
bersama rakyat di pilwalkot 2018 lalu. Apa lagi saat bersama – sama ‘memenangkan’
kolom kosong di 2018 lalu. Semangat itu tetap terjaga, Danny Pomanto disetiap
pertimbangan, keputusan maupun langkahnya selalu bersama rakyat. Keputusannya
pun untuk memilih jalur yang akan ditempuhnya nanti di pilwalkot juga
melibatkan rakyat Makassar.

Danny Pomanto menegaskannya,
mengajak rakyat  berkumpul menentukan
masa depan Makassar. tentunya di forum yang pertama kalinya terjadi dalam
sejarah pemilihan kepala daerah. Dengan elegan menamainya ‘musyawarah rakyat’.
Saatnya bersikap, saatnya berdaulat untuk Makassar dua kali tambah baik.