Danny dan Lorong yang Mendunia


Lorong warna-warni di Makassar (Sumber Foto : Antara)

 

Oleh : Arman Zul Asman

MakassarBicara.com- Akhir-akhir ini, saya kerap menonton Film ‘Payithat-Sultan Abdul Hamid II’, meski belum kelar hingga ke sesion 5. Saya telah menyelesaikan 2 sesion yang mencakup 50 episode. Film ini menceritakan bagaimana Sultan Abdul Hamid II, Sultan Turki Ottoman berjuang mengangkat harkat martabat negaranya melalu kemandirian ekonomi, politik, hingga kesejahteraan rakyatnya. Meski menolak keterlibatan pihak asing dan kepentingan yang tak pro rakyat, Abdul Hamid tetap berusaha berdiri bersama rakyatnya melawan berbagai macam fitnahan yang disebar melalui media-media yang kerap mengundang rakyatnya turun ke jalan, demontrasi. Abdul Hamid yakin, menjalankan visi pemerintahannya bersama kekuatan rakyat, kota-kota dibawah Turki Ottoman dapat mendunia dalam satu kesatuannya. Dunia akan dibuat gentar.

Demikian, Sultan Abdul Hamid memang ahlinya. Merancang kota berkelas dunia harus diserahkan kepada ahlinya, yakni memiliki kecakapan meracik tanpa menjiplak. Tidak menuruti kemauan asing, tetapi membangun sesuai dengan jati diri dan lokalitas budaya yang terjaga. Saya tidak ingin mengatakan bahwa sosok yang dapat membangun kota Makassar dapat dipandang dunia, itu adalah Sultan Abdul Hamid-nya Makassar. Sama sekali tidak. Tetapi semangat meracik tanpa menjiplak dengan mempertimbangkan aspek lokalitas dan karakter warga Makassar, itu ada pada sang arsitek ulung, Danny Pomanto. Hanya itu saja, bukan menyama-nyamakan. Jangan bikin hoaks ya frend…

Begini, Danny Pomanto itu punya misi membangun kotanya menjadi kota dunia, yakni merekonstruksi kesejahteraan warganya berstandar dunia, merestorasi tata ruang untuk menjadi nyaman seperti kota-kota dunia dan mereformasi tata pemerintahan dan pelayanan publiknya yang berstandar kelas dunia, transparan dan bebas KKN. Ketiga misinya berujung pada konsep penataan kota. Untuk menata kotanya, Danny menganalogikannya secara sederhana, yaitu pemerintahan atau kota itu seperti tubuh manusia, di tubuh manusia itu ada dua hal penting, yakni otak dan sel. Lorong itu seperti sel dalam tubuh, lorong tempat rakyat tinggal yang paling miskin. Lorong adalah sel-sel kota Makassar, maka konsentrasi dulu di sel-nya supaya sehat. Tidak ada gunanya otak sehat jika sel-nya tidak.

Bagi yang belum mengerti, maksudnya begini, Danny Pomanto ingin membangun Kota Makassar berkelas dunia dimulai dari lorong. Jelas ini merupakan racikan yang tidak dijiplak. Danny ingin membangun karakter dan lokalitas itu mendunia. Danny sang arsitek paham bahwa kekuatan terbesar sekaligus masalah terbesar ada di lorong. Kekumuhan ada di lorong, kemiskinan dan kelaparan ada di lorong, kegelapan ada di lorong, dan pengangguran ada di lorong. Jumlah lorong yang begitu besar mencapai 7.500, akan membawa Makassar kepada ketidak-adilan sosial jika tak segera diatasi, dengan mengatasinya Danny paham ini adalah kekuatan ekonomi besar dan berkelas dunia.

Pada awal pemerintahannya, Danny menyerukan pembersihan lorong terhadap 7.500 lorong yang ada. Penghuni lorong bergerak, mereka berbenah, mengecat paving blok, dinding-dinding, hingga menuliskan berbagai slogan kebersihan. Danny berharap, lorong tak tampak kumuh, lorong harus terlihat berwarna sebagaimana warna warganya yang dihuni beraneka ragam warna.  Lorong terlihat hidup, Danny bersama jajarannya mulai bergerak menuntaskan kemiskinan dan kepalaran di lorong. Diserukanlah pemanfaatan lahan lorong, jangankan tanah kosong, dinding beton warga pun ditanami tanaman hidroponik. Segala jenis sayuran ditanam, bibit unggulan disiapkan pemerintah, warga lorong dapat memakan hasil keringatnya sendiri, sisanya dijual untuk mengepulkan asap dapur. Pemerintah Kota Makassar menyebutnya sebagai lorong garden, setidaknya kebun lorong.

Danny paham masalah perut adalah masalah ekonomi, masalah ekonomi berujung pada keributan dan ketidak-tentraman warga. Pembenahan kebun lorong diharapkan dapat menjawab ketimpangan ekonomi yang ada di lorong. Namun, kejahatan bukan hanya soal itu, tetapi adanya kesempatan. Lorong boleh ceria di siang hari, lorong boleh tumbuh dengan ekonomi akar rumput, tapi gelapnya lorong pada malam hari dapat memicu kriminalitas. Danny pun bergerak lagi, menerangi lorong.

Danny bersama jajarannya seperti tak ingin tidur, lorong-lorong diberi lampu agar bersinar terang. Warga senang, mereka bahagia, otaknya dapat berpikir lancar. Sayangnya, di akhir pemerintahannya, langkah ini belum terlihat maksimal. Sehingga beliau membutuhkan periode kedua, lima tahun lagi untuk melanjutkan program yang tertunda.

Jika kita semua masih yakin, berilah beliau kesempatan. Setidaknya, setelah lorong bercahaya, maka Danny akan mengeluarkan jurus pemungkas mengedukasi masyarakat lorong agar membangun industri dari dalam lorong. Kekuatan ekonomi akan dibangun dan dirintis dari 7.500 lorong se Kota Makassar. Danny akan memberdayakan warga di lorong agar bisa berpenghasilan. Sisa satu langkah lagi, tak mungkin kita membiarkan makassar mundul lagi. Berilah kesempatan untuk membuktikan itu.

Kekuatan ekonomi lorong atau industri lorong ini berbasis partisipasi warga dan zero budget. Dan itu bukan hayalan, sebab kebun lorong itu  sudah jadi percontohan nasional dalam hal Bank Sampah oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Bahkan  Danny pernah mebawa Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson di lorong Jalan Toddopuli. Mereka terkesima dan takjub lorong dapat mendunia.

Selanjutnya, pada program industri lorong, warga yang tinggal di lorong diberi pelatihan pembuatan tas dan berbagai macam kerajinan dari barang bekas seperti kantong sabun dan limbah lainnya.  Atas penataan lorong berkelas dunia ini, Makassar berhasil secara berturut-turut memperoleh penghargaan Adipura kategori kota metropolitan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia pada 2015 dan pada 2016. Sementara itu pada 2017 Makassar mendapat Adipura Kirana Tahun 2017. Tidak hanya itu, kerja keras masyarakat dan Pemerintah Kota Makassar juga berbuah penghargaan Adipura ASEAN kategori Clean Land pada 2017 yang lalu. Sebagai anak yang lahir dan besar di sebuah lorong di jalan Amirullah, Danny telah membuat lorong Makassar menjadi lorongna dunia, cess!!!. Tappa’maki’?

Saya kasi sedikit cerita lagi nih… Saat Danny Pomanto tidak lagi menjabat walikota beliau tetap disibukkan dengan sejumlah agenda skala internasional. Misal menerima kunjungan pejabat dari Washington DC, Amerika Serikat untuk melihat langsung Smartcity. Juga Danny Pomanto beserta istri, Indira Jusuf Ismail pernah diundang khusus oleh Duta Besar Amerika Serikat, Joseph R. Donovan dan Konjen Amerika Serikat, Mark McGovern untuk bertolak ke Manado untuk menghadiri resepsi peringatan 70 tahun hubungan bilateral Amerika Serikat dan Indonesia yang dirangkaikan resepsi Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang ke 243 tahun.

Danny Pomanto juga telah menerima kunjungan Sekretaris Senior Parlemen Singapura, Tan Wu Meng, serta pejabat dari Kementerian Luar Negeri Singapura dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Singapura. Begitulah Danny beserta segala undangan dan prestasinya. Bukan undangan klarifikasi utang yang menembus manca negara.