Belajar Jadi Pemimpin yang Toleran dari DP


ILUSTRASI TOLERANSI (SUMBER : INT)

Oleh : Piet Pabicara*

 

MakassarBicara.com-Hari Toleransi Internasional baru saja berlalu, 16 November kemarin. Apa yang kita pelajari atau yang kita capai pasca peringatan yang penuh makna itu? Soal toleransi, sejak tahun 2019 lalu, saya sendiri selalu punya kesan mendalam dan emosional hingga ideologikal terkait ini.

Pengalaman mengesankan saya terjadi pada Desember 2019, tahun lalu. Bagaimana tidak, waktu itu, saya memulai sesuatu hal yang baru dalam hidup saya: Natal Pertama. Perlu saya tegaskan terlebih dahulu, saya bukanlah penganut Kristen dan tampaknya tidak akan menganut ajaran Kristus itu.

Natal 2019, saya alami sebagai seorang outsider yang mencoba untuk paham tentang the others, pihak-pihak yang berbeda dengan saya. Saya menyadari betul bahwa untuk bisa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda dengan kita, kita harus memahami mereka. Dan untuk memahami, persentuhan langsung dengan pihak lain itu amat penting, bahkan mutlak.

Begitulah, saya menghadiri perayaan Natal untuk berbincang lebih hangat dan dalam, plus mengalami langsung. Tapi, saya harus menjaminkan diri saya bahwa saya sama sekali tidak berniat untuk merusak iman saya. Bahkan, berdasarkan refleksi pribadi saya, iman dan batin saya terasa semakin kaya dan kokoh. Meski begitu, sebagai orang yang berpuluh-puluh tahun hidup dicekoki dengan doktrin “Haram mengucapkan selamat Natal”, padahal doktrin itu adalah fatwa ulama yang ternyata ada ulama lain yang berpendepat berbeda, saya harus mengakui bahwa di tengah perayaan Natal 2019 kemarin, perasaan saya campur aduk.

Syukurlah, perasaan kikuk dan tidak nyaman itu semakin lama sirna, terlebih ketika menyadari bahwa ada sejumlah tamu yang seiman dengan saya di dalam gereja itu. Saya yakin, mereka, tamu yang seiman dengan saya itu, juga datang bukan untuk merusak iman mereka. Tamu yang paling saya hapal adalah Bapak Ilham Arief Siradjuddin dan istrinya, serta Bapak Danny Pomanto. Momen ini juga menunjukkan ke saya bahwa Ilham Arief Siradjuddin dan Danny Pomanto masih saling menyapa, berbincang, dan bergurau (maklumlah, kabarnya, mereka ada konflik. Tapi, mungkin benar kalau soal politik).

Mereka datang, berbaur dengan semua tamu di sana. Tekrhusus Pak Danny Pomanto, selanjutnya saya menyebut sapaan karibnya saja “DP”, saya dua kali bertemu dengan dia di dalam perayaan Natal 2019. Di kedua lokasi perayaan itu, saya melihat betapa DP begitu diterima oleh para umat Kristiani. Kebetulan, tempat duduk saya tidak jauh dari kerumunan tempat para tama mengerubungi DP. Terdengar jelas para tamu tersebut mendoakan DP. Seketika, acara itu seakan menjadi acaranya DP. Padahal, ada tokoh utama pendukung bakal calon wali kota lain di sana.

Beberapa saat setelah acara Natal itu, saya berkesempatan untuk bertemu langsung dan lebih dekat dengan DP di kediamannya. Sebenarnya, yang diundang adalah rekan saya, saya hanya menemani. Karena sadar saya bukan orang yang diundang, saya hanya diam-mendengarkan.

Sampai DP akhirnya berceletuk, kurang lebih begini isinya. “Pemimpin itu harus memihak semua golongan. Tidak etis kalau pemimpin bilang saya anuku yang ini bukan yang itu,” kata DP. Oh iya, konteks pembicaraan DP saat itu, terkait riak-riak dualisme KNPI. DP melanjutkan, yang kurang lebih isinya begini. “Makanya saya juga bersedia datang kalau diundang kelompok apa pun, organisasi apa pun. Bukan karena saya calon wali kota, tapi karena saya ini seorang pemimpin. Apa lagi kan undangan.”

DP mengaku, dirinya beberapa kali diajak diskusi oleh putrinya tentang kesediaan DP datang ke perayaan agama lain serta kedekatannya dengan sejumlah kalangan yang oleh kelompok mainstream atau kelompok mayoritas dianggap sebagai the others. Tapi DP mengaku dia sudah meyakinkan putrinya itu bahwa ia sudah mengkaji sikap dan tindakannya itu dari segala aspek dan berkonsultasi dengan sejumlah pakar. Terkait menghadiri perayaan agama lain, ia mengaku sudah meyakinkan putrinya bahwa tindakannya itu tidak sedikit pun ia niatkan untuk merusak dan tidak akan mengganggu imannya. Mendengar itu, saya teramat kagum. Terlebih saat ia menyebut sejumlah nama ulama yang berpendapat sama dengan dirinya. Ini menunjukkan bahwa DP memang benar-benar mencari tahu dan punya landasan atas segala yang ia lakukan.

Kemampuan DP untuk berbaur dan diterima oleh semua pihak juga diiyakan oleh rekan saya. Kebetulan,  dia merupakan aktivis perdamaian lintas iman di kota ini. Katanya, dia pernah menghelat event yang melibatkan umat lintas iman. Saat itu, menurut pengakuan rekan saya tersebut, acara tidak mendapatkan respons yang baik dari Pemerintah Kota Makassar. Saat itu, Makassar tidak lagi dipimpin oleh DP. Menurut rekan saya itu, kalau DP masih wali kota, pasti pemkot akan mendukung full acara yang mengusung tema terkait toleransi tersebut.

Terlebih di masa identitas menjadi jualan politik yang paling laku, seperti kini, kita membutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar bisa memahami, berbaur, dan diterima oleh semua kalangan.  Makassar sebagai kota yang multikultur, multiidentitas butuh pemimpin yang memahami toleransi dan mempraktikkannya secara riil. Tidak hanya untuk memimpin kota ini, kita, warga kota ini butuh untuk belajar langsung, meneladani sikap toleran dan bisa berbaur dengan semua kalangan dari DP. Bukankah belajar memang tidak sekadar mendengar konsep yang nol praktik?