Arisan, Buku dan Makassar Smart City


Suatu waktu, ibu-ibu di kompleks perumahan tempat tinggal kami di kawasan Mallengkeri, Makassar, menggelar arisan bulanan di rumah sederhana –untuk tidak mengatakan sempit, kami. Sebuah kegiatan yang lumayan membantu sosialisasi kami sebagai penghuni baru. Bulan itu, keluarga kami yang mendapat jatah sebagai tuan rumah.

Karena keterbatasan ruang, lemari buku yang memuat buku dengan berbagai tema yang keluarga kami punyai, ditempatkan di ruang tamu. Lemari buku memenuhi separuh dinding, menemani satu set kursi kayu antik yang setia menghias sudut ruang. Lagipula kami memang tak mempunyai banyak perabot. Maka kursi itu jua berfungsi sebagai kursi baca.

Begitu ibu-ibu kompleks mulai berdatangan, saya memilih menyingkir ke teras disertai beberapa buku dengan tema berbeda. Aku memang memiliki kebiasaan membaca beberapa buku dengan tajuk berlainan sekali lalu, atau buku-buku dengan tema selaras namun dari perspektif berbeda, untuk mengusir pasai atas suatu tajuk.

Voltaire pernah berperi, “Tak ada yang mempesonaku, daripada menyaksikan berbagai ide yang berbeda saling bertarung dan menggempur.” Maka demikian pula bagiku, tak ada yang lebih serindai, selain memamah berbagai ide yang baku telisik dan saling menyigi. Aku bisa merasakan serotonim membadai di otakku.

Karena arisan belum dimulai, mereka –ibu-ibu kompleks, menikmati kudapan yang tersedia, dan tentu saja sambil bercelatuk dengan pelbagai tajuk. Mulai dari lakon Jodha-Akbar –sinetron Hindustan dengan latar Dinasti Mughal, sampai laku petugas sampah di kompleks. Namun dari sekian banyak tajuk yang mereka celatukkan, yang menarik perhatianku adalah komentar mereka tentang koleksi pustaka kami.

“Suaminya kerja di mana ya? Lihat bukunya banyak sekali.” Bisik seorang ibu yang mengenakan pakaian ala baju India model Jodha.
“Kabarnya sih, di Inspektorat.” Beber ibu yang lain.
“Tapi kok, bukunya banyak sekali? Kerjaan orang Inspektorat kan tidak terkait dengan buku?” Kembali ibu yang tadi bertanya.
“Ah, kayaknya kerja di perpustakaan daerah, deh.” Celetuk yang lain lagi.
“Memang kalau di perpustakaan daerah, banyak buku?” Seorang ibu dengan riasan agak menor angkat suara.
“Ya banyaklah, namanya juga perpustakaan, banyak juga buku-buku gratis gitu…” Timpal yang lain. Masih banyak sahutan yang berseliweran.

Awalnya, ketika menyimak sahutan mereka, aku sempat tersinggung, sebab mereka mengaitkan antara jumlah koleksi pustaka yang kami punya dengan pekerjaanku yang seharusnya di perpustakaan daerah. Aku merasa dicurigai mengutil buku dari tempat kerja. Mungkin aku pernah mengutil buku, dan itu bukan sekali, tapi kupastikan bukan dari tempat kerja, tapi buku teman-temanku.

Tapi aku sadar, mereka tentulah heran, sebab berbeda dengan keluarga kebanyakan, ketika ruang tamu mereka dipenuhi dengan pernak-pernik hiasan serta abah-abah yang kinclong, kaligrafi bersepuh emas berharga jutaan, atau foto keluarga berpigura besar, ruang tamu kami yang sempit, sesak karena hadirnya lemari butut yang berisi buku-buku.

Komentar-komentar mereka membuatku tercenung, bahkan merasa kasihan. Reaksi mereka ketika melihat kehadiran buku-buku tidak seperti harapanku. Betapa, ibu-ibu yang sebagian besar merupakan dari golongan terpelajar, minimal suami mereka para kaum profesional di berbagai bidang, tidak begitu amikal dengan kehadiran buku.

Aku kemudian merenung, sepertinya ada yang keliru dengan masyarakat kita. Makassar yang menggembar-gemborkan untuk menjadi kota dunia, dan bermimpi membangun smart city, ternyata dihuni oleh masyarakat yang berjarak dari buku –artefak tradisi literasi yang paling nyata, masyarakat yang berparak dengan tradisi literasi.

Tengoklah Paris, meskipun lebih terkenal sebagai kota mode, tapi kota ini merupakan salah satu kota yang memanjakan para pecinta buku. Tak kurang ada 74 perpustakaan umum dengan spesialisasi bukunya masing-masing, dan rata-rata dibangun sejak abad ke-15. Tidakkah kita iri dengan Bibliotheque de la Sorbonne, perpustakaan penggah dengan koleksi buku yang berjebah?

Longoklah pula kota Hay-on-Wye di Wales. Di kota dengan arsitektural klasik ini, jangankan di pusat perbelanjaan, bahkan kantor pemadam kebakaran, kastil dan bioskop, semua dilengkapi dengan toko buku. Bagaimana masyarakatnya tidak menjadi bibliophilia, bila ke arah manapun mata memandang, maka di situ ada toko buku?

Namun bila Paris dan Hay-on-Wye adalah perbandingan yang terlalu jauh, tolehlah pada kota yang lebih dekat, Bandung. Kota yang bergelar Paris van Java ini konsisten untuk mencerdaskan warganya melalui buku dengan pelbagai tata olah, seperti perpustakaan di kampung-kampung miskin. Bahkan Bandung juga menginisiasi pengadaan perpustakaan mini di taman-taman kota.

Sudah harus menjadi pemikiran bersama di Makassar ini, pembangunan kota jangan hanya bersolek secara tampilan luar, jiwa masyarakat juga harus dibangun. Lucius Annaeus Seneca (4 – 65 M), salah seorang filosof dari sedikit filosof yang muncul di Romawi, pernah berucap lirih, “Seperti daging untuk jasmani, begitulah bacaan untuk jiwa.”

Makassar memang sudah punya Makassar International Writer Festival (MIWF) yang megah itu, tapi MIWF jauh dari cukup. MIWF baru menyentuh selapis tipis pada satu stratifikasi sosial tertentu di masyarakat. Baru menyentil tradisi literasi pada kelas menengah yang memang sudah terdidik dengan baik. Kita perlu membangun tradisi literasi dan kecintaan terhadap buku pada level mikro masyarakat: keluarga.

Membangun kecintaan keluarga terhadap buku selalu menjadi impianku sejak dulu. Aku membayangkan ketika berkunjung ke rumah tetangga atau kerabat, kita tidak hanya akan membincang tentang dinamika politik kontemporer yang banal atau model kursi tamu, harga taplak meja dan gorden. Tapi kita membincang tentang buku terbaru, novel pilihan, kumpulan puisi atau sehimpun pantun.

Tentu ini bisa terwujud bila telah terbangun kecintaan pada buku di masing-masing keluarga, sehingga ruang-ruang tamu kita diisi dengan rak buku sebagai artefak utama kebanggaan keluarga. Lalu kita akan menghabiskan waktu bertamu dengan membaca puisi bersama, membincang novel-novel menawan atau menyusun rencana menerbitkan karya kolaborasi melalui self publishing.

Aku jadi teringat dengan Si Brewok –Karl Marx, bila membayangkan situasi yang demikian. Kami berbagi mimpi yang sama tentang masyarakat yang tidak hanya menghabiskan waktunya pada rutinitas kerja, kerja dan kerja. Kita membutuhkan masyarakat yang jiwanya sehat, masyarakat yang tercukupi asupan gizi ruhaninya: buku. Bukankah itu indah?

Tulisan ini dimuat di ArusMuda, edisi 17 Mei 2017