Apa Untungnya Danny Pomanto Menyerang JK?


Appi Rahman, Jusuf Kalla dan Danny Pomanto

 

Oleh : Ahmad Sangkala*

MakassarBicara.com-Semakin dekat waktu pencoblosan, suasana semakin memanas. Saling serang di debat ketiga tak terhindarkan, pasangan Appi-Rahman tampil agresif. Tentu serangan yang bertubi – tubi terhadap kinerja saat Danny Pomanto – Syamsu Rizal menjawab. Namun serangan balik soal wisma isloasi mandiri yang tak jadi beroperasi membuatnya terpojok. Malah justru pasangan Syamsu Rizal – Fadli Ananda dan Danny – Fatma justru saling mensupport soal kinerja saat menjabat. Tentu ini membuat konstalasi semakin meninggi. Setelah itu, muncul hujan rilis survei jelang hari tenang. Mulai dari roda tiga konsultan, CRC dan terakhir Fixpoll.

Survei roda tiga konsultan menegaskan pertarungan panas ADAMA VS Appi Rahman, dengan selisih tipis dalam margin eror yakni 0,4%. Walau memenangkan Appi- Rahman, kesimpulan survei ini menegaskan baru bisa menang jika tidak ada kejadian luar biasa. CRC justru muncul tampil percaya diri, Danny Pamanto – Fatmawati Rusdi unggul dengan presentase 45,9% diikuti Munafri Arifuddin – Abdul Rahman Bando dengan 35,2 %. Selisih diatas 10% tentu hal yang sulit dikejar tanpa kejadian luar biasa. Terakhir, Fixpoll menempatkan Appi-Rahman justru unggul 37,6 persen,menyusul Danny- Fatma 34,1 persen.  Selisih 3 persen lebih tentu hal yang tak sulit dikejar.

Syamsu Rizal – Fadli Ananda (DILAN) dan Irman YL – Zunnun NH (IMUN) walaupun cenderung surveinya tidak mendekati angka 20 persen. Namun keduanya tak lempar handuk, justru tetap optimis bertarung. Walaupun hampir semua lembaga survei berkesimpulan bahwa pertarungan Pilwalkot Makassar 2020 tersisa ADAMA VS Appi-Rahman.

Jika Demikian, Apa yang harus diperebutkan ADAMA VS Appi Rahman?

Swing voters tentu menjadi penentu kemenangan pertarungan ini.  Fixpoll menyebut angkanya sebesar 11,1persen dan Roda tiga konsultan sebesar 18,8 persen. Angka ini tentu sangat besar. Biasanya tipikal pemilih diswing voters hingga pekan terakhir sebelum pemilihan adalah pemilih pragmatis. Dalam artian pemilih yang pragmatis karena menunggu serangan fajar atau pemilih yang enggan ke TPS. Keduanya tentu butuh pendekatan khusus untuk memobilisasi ke TPS dan meyakinkan pilihannya.

Baik ADAMA maupun Appi-Rahman tentu sudah memiliki tim hingga TPS. Sehingga keduanya sama – sama memiliki peluang untuk merebut suara swing voters. Tentu keduanya juga sejauh ini dinilai memiliki sokongan finansial yang kuat. Sehingga di level bawah akan terjadi pertarungan sengit.

Sayangnnya, jika merujuk dengan survei CRC yang menempatkan selisi diatas 10 persen dengan swing voters hanya 2,7 persen. Maka sudah hampir pasti Danny – Fatma memenangkan Pilwalkot Makassar. Catatannya cuma satu, tidak terjadi kejadian luar biasa. Jika survei ini benar, maka Appi Rahman butuh kejadian luar biasa untuk mengejar ketertinggalannya.

Kejadian luar biasa, Belajar dari Pilkada Jakarta ?

Tumbangnya Ahok di jakarta tidak lepas dari kejadian luar biasa, walaupun memiliki selisih 10% namun Anis Baswedan mampu membalikkan keadaan. Menurut Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun seperti dikutip di Merdeka.com (20/4/2017) menyebut beberapa alasan suara Ahok kalah jauh dari Anies Baswedan. Menurutnya, salah satunya karena isu agama yang masih dimainkan hingga hari terakhir pemilihan. Suara Ahok tergerus salah satunya karena kasus pengutipan Al Maidah saat kunjungan ke Kepulauan Seribu pada September 2016 lalu. Kasus video kampanye itu berefek terhadap menurunnya simpatik pemilih muslim. Walaupun terlihat gap antara Anies-Sandi dan Ahok-Djarot di atas 10 persen. Perolehan suara Ahok dan Djarot persentasenya sama dengan putaran pertama, ini menandakan Ahok tidak bisa meraih tambahan suara.

Tentu dalam beberapa kasus pilkada, isu agama dan politik identitas memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap migrasi pemilih. Tetapi tentu itu bisa terjadi jika dilakukan secara massif dan natural, bukan karena settingan.

Apa Korelasinya dengan Rekaman Suara Danny Pomanto?

Viralnya bocoran rekaman suara yang begitu massif tentu bukan terjadi secara alami. Bisa saja ini merupakan bagian dari strategi untuk melemahkan elektabilitas Danny-Fatma. Apa lagi konten rekaman yang beredar sudah diedit dan dikemas dengan baik, sehingga dengan mudah menyebar ke media sosial dan media massa. Namun jika benar, tentu ini patut disayangkan. Hal ini karena perbincangan pribadi disebarluaskan tanpa izin, apa lagi kejadiannya berada di kediaman Danny Pomanto. Sehingga perbincangan tersebut bukan merupakan konsumsi publik, melainkan konsumsi internal bahkan pribadi.

Sebagai negara demokrasi, tentu kita ingin memiliki ruang privasi. Tiap warga negara punya hak Azasi berpendapat. Termasuk didalamnya menganalisis dan memprediksi, apa lagi hanya perbincangan ringan. Kebebasan itu dilindungi berdasarkan UUD 1945 Pasal 28E pasal  (2) Setiap  orang  atas  kebebasan  meyakini  kepercayaan,  menyatakan  pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. dan (3)  Setiap  orang  berhak  atas  kebebasan  berserikat,  berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Jikapun akan di proses, rekaman itu tidak sah tidak diperbolehkan menurut hukum. Dalam UU 19/2016 tentang ITE pasal 5 Ayat (2) berbunyi Khusus untuk Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik berupa hasil intersepsi atau penyadapan atau perekaman yang merupakan bagian dari penyadapan harus dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang. Hal ini menegaskan bahwa rekaman tersebut adalah perbuatan melanggar hukum.

Hal ini sejalan dengan klarifikasi Danny Pomanto seperti dikutip detik.com (5/12/2020) menjelaskan : “Jadi itu adalah percakapan di dalam rumah saya. Dalam rumah saya orang rekam. Jadi sebenarnya itu adalah percakapan biasa, analisis politik dan hak setiap orang kan begitu. Sebenarnya saya korban ini. Kenapa ada yang rekam dan sebar. Aneh.”  Selanjutnya dalam penjelasannya menyebutkan bahwa beredarnya rekaman tersebut membuatnya dirugikan.

Karena itu kan penyebaran dan saya merasa dirugikan. Kan saya dibenturkan dengan orang lain. Orang punya hak untuk punya pendapat dalam rumah saya sendiri, rumah saya itu.”

Klarifikasi ini tentu jelas dan bisa meyakinkan publik bahwa hal ini bukan merupakan konsumsi publik. Perbincangan ini hanya analisis pribadi yang diperbincangkan di rumah sendiri. Tentu yang menyebarkannya mungkin ingin memanfaatkan situasi, berharap ini menjadi kejadian luar biasa.

Sehingga, Apa Untungnya Danny Pomanto menyerang JK dan KPK?

Jawabannya singkat, TIDAK ADA. Secara elektoral, Danny Pomanto terbilang di posisi yang hampir pasti memenangkan pertarungan. Cukup memassifkan tim hingga TPS, memobilisasi pemilih serta menjaga agar partisipasi pemilih meningkat dan tidak terjadi kecurangan. Maka Danny pomanto bisa memenangkan pertarungan ini.

Sebagai petahana dan selalu unggul di survei sejak awal, Danny pomanto tak perlu menyerang lawannya. Cukup mengkampanyekan capaian kinerja dan programnya. Tentu akan menjaga basis elektoralnya yang berada di kisaran 30 persen. Dengan sokongan Gerindra dan Nasdem, mengangkat elektabilitas diangka 10 persen bukan hal sulit.

Satu lagi, tak mungkin Danny Pomanto ingin menyerang JK secara terbuka. Bukankah itu menegaskan serangan black campign yang menyerang dirinya sebagai pendatang di Makassar. Begitu pun KPK, Danny Pomanto sejak awal komitmen pada pemberantasan korupsi. Bahkan sudah dibuktikan saat menjabat, mana mungkin mau menyerang KPK.

Terakhir, serangan ini bukan kali pertama. Ini merupakan serangan yang kesekian kalinya. Makanya publik Makassar tentu sudah cerdas. Pilihlah yang telah memberi bukti, bukan sekedar janji.