Saat Aliran Air Ke Rumahmu Berhenti Tanpa Permisi


Aliran air di kran berhenti adalah hal yang lumrah dialami oleh pelanggan air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), termasuk PDAM Kota Makassar. Berdasarkan pengalaman pribadi di rumah, kurang dari lima belas sampai dua puluh menit, airnya akan kembali mengalir normal. Kejadiannya pun tak setiap hari, dalam sebulan kadang ada sehari peristiwa sedemikian. Jadi hal ini aku rasa sebagai hal yang wajar saja.

Namun di beberapa kawasan Kota Makassar, warga harus berlomba dengan tetangga demi mendapatkan tetesan air, entah dengan cara menampung air di kala tengah malam saat pemakaian rendah, atau dengan memasang pompa air. Nah, bila sudah seperti ini, bagiku bisa menjadi luar biasa, meski bagi mereka yang sudah mengalaminya bertahun-tahun adalah hal yang lumrah sebagai takdir yang pantas dijalani.

Kemarin pagi (jumat, 24/11/2017), air ini menjadi masalah besar. Suplai dari PDAM Kota Makassar berhenti tiba-tiba sejak Kamis (23/11/2017) siang, sekira pukul 10 lewat. Sebenarnya, tetes terakhir di hari itu adalah momen dramatis bagiku, sebab kejadiannya bersamaan dengan berakhirnya aku mandi. Tak seperti biasanya, hari itu aku mandi agak siang, dan memakai gayung, karena shower seperti kehilangan daya akibat tekanan air yang sudah melemah.

Tapi karena teringat dengan kejadian sebelumnya, otakku memprogram respon yang bersifat biasa saja, cuek. Toh, akan mengalir lagi setelah paling lama dua puluh menit, seperti sebelum-sebelumnya. Lagi pula, bila pemadaman akan berlangsung lama, tentu akan ada pengumuman dari pihak PDAM. Kali ini, aku tak punya informasi terkait itu, entah karena memang tak ada permakluman, atau aku yang lalai tak mendengar atau tak membacanya di media.

Tersebab merasa biasa saja, tak ada upaya menampung air pada beberapa ember yang memang disiapkan untuk itu. Bahkan karena masih kelelahan akibat perjalanan jauh malam sebelumnya, aku kembali melelapkan mata setelah bercengkrama dengan kedua anakku: Fatimah Daeng Ti’no (5 tahun) dan Aditya Daeng Sibali (3 tahun). Aku baru terbangun lagi ketika azan duhur berkumandang dari menara masjid, dan kudapati tak ada setetespun air yang menitis dari kran saat hendak berwudu.

Air minum dalam galon menjadi pahlawan yang menutupi kebutuhan air untuk mandi, cuci, dan aktivitas dalam tandas lainnya. Kebutuhan untuk minum, diantisipasi dengan air kemasan dalam gelas plastik. Aku masih tenang dan damai, ibarat kata di zaman revolusi, Kompeni masih jauh. Kondisi ini berlangsung hingga istriku pulang dari kantor, saat magrib menjelang. Kami butuh air untuk berwudu, mandi sore kami coret dari agenda harian, dan air tak kunjung menetes.

Rasa khawatir mulai membayangi selepas magrib, waktu berbuka terlalui, dan pipa PDAM masih saja puasa, tak ada secebis air pun yang menitik. Kuraih gawai, kubuka aplikasi peramban  dengan kata kunci air PDAM Makassar tak mengalir 23 November 2017. Tak berselang lama, kutemukanlah laman media daring yang memuat penjelasan Humas PDAM Kota Makassar, Idris Tahir perihal penyebab terputusnya aliran air.

Patut disayangkan, sebuah perusahaan daerah di kota yang gencar mensosialisasikan diri sebagai Smart City, menyampaikan surat tagihan pelanggan secara manual, dan pengumuman kondisi tak terduga hanya melalui media massa. Sebuah ironi bagi kota yang mempunyai sistem komunikasi dan informasi berbiaya milyaran setiap tahun

Dalam kabar yang ditayangkan di laman rakyatku.com, pada pukul  10.42 wita, Idris Tahir menjelaskan bahwa terjadi kebocoran pipa distribusi diameter 200 mm di Jalan Talasalapang, tepatnya di samping SPBU yang disuplai dari instalasi Somba Opu dan perbaikan akan dimatikan untuk sementara. “Suplai air akan kembali normal setelah pekerjaan selesai, yang diperkirakan pada pukul 18.00 Wita.” Janji Idris.

Membaca keterangan itu, kekhawatiranku kembali reda, pukul 18.00 telah terlewati, bukankah keterlambatan adalah hal biasa untuk urusan perbaikan kerusakan sedemikian? Tentu tak akan lama lagi air kembali mengalir, paling terlambat satu atau dua jam dari waktu prediksi. Apalagi terkadang PDAM mengumumkan akan ada pemadaman selama tiga hari, tapi baru dua hari sudah kembali mengalir. Jadi ini hal lumrah.

Maka sepanjang malam jumat, kami sekeluarga bertahan dengan air di galon, dengan sesekali terbangun untuk mengecek apakah airnya sudah mengalir atau belum. Alhamdulillah, kami berwudu untuk salah subuh, masih dengan air di galon, kran masih irit memuntahkan isinya. Lalu pagi kami sambut dengan gelisah, perihal mandi, sikat gigi, dan cebok dalam suasana semua air sudah tandas, termasuk yang di galon.

Begitu kulongok jalanan di depan rumah yang masih remang-remang, sudah ramai dengan tetangga yang berkeliaran menenteng ember dan kaleng kosong. Istri dan anak-anak pun sudah menuntut disediakan air untuk ke tandas. Maka setelah mendapat izin dari bujang sekolah di depan rumah, air sumurnya pun berpindah ke kamar mandi kami. Tak kurang dari enam kali aku bolak-balik rumah ke sekolah itu, untuk antri dengan beberapa tetangga yang juga mengambil air dari sana.

Selama perjalanan pergi – pulang sambil menenteng ember itulah, pikiranku melayang pada apa yang selayaknya dilakukan oleh PDAM untuk tidak membuat pelanggannya demikian kalang kabut di pagi buta. Tentu, sebagai perusahaan jasa, tuntutan untuk kian meningkatkan kualitas layanan adalah hal yang tidak bisa diabaikan dengan alasan  apapun.

Pertama, saat terjadi pemutusan sementara aliran air yang durasinya sampai 24 jam, selain mengumumkannya kepada khalayak melalui media massa, bukankah sebuah tindakan bijak bila PDAM mengirimkan armada mobil tangki yang mengangkut air bersih pada titik-titik tertentu di kawasan yang mengalami pemutusan aliran tadi, dan titik-titik itu dikoordinasikan dengan RT/RW setempat, sehingga warga tetap terpenuhi kebutuhannya akan air bersih.

Memang mungkin warga akan tetap repot menenteng-nenteng ember dari posisi mobil tangki dengan rumahnya, tapi minimal, warga tetap mendapatkan air bersih dengan kualitas yang terjamin. Lalu yang lebih penting lagi, tentu pelanggan akan merasa diperhatikan oleh perusahaan. Bukankah ini modal sosial dalam membangun relasi antara perusahaan dan pelanggan yang lebih manusiawi?

Kedua, untuk jangka panjang, alangkah baiknya kalau PDAM membangun database nomor telepon seluler seluruh pelanggannya lalu menggandeng provider tertentu untuk mengirimkan setiap informasi penting kepada nasabah, real time. Bila memang itu masih dianggap kemahalan, untuk sementara bisalah nebeng pada sistem komunikasi dan informasi yang dimiliki oleh Kota Makassar.

Kedua hal ini diharapkan bisa meredakan pandangan sinis dari pelanggan bahwa PDAM adalah perusahaan yang hanya mau menang sendiri. Bila pelanggan terlambat sehari saja dalam melakukan pembayaran, sudah diberikan denda sejumlah tertentu, bahkan disertai ancaman pemutusan aliran air. Namun mana mau PDAM membayar ganti rugi pelanggan yang mengalami kerugian akibat terhentinya aliran air tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sesuatu yang tak adil, bukan?

Selain itu, pengumuman pemutusan aliran air melalui media massa juga memiliki kelemahan tersendiri. Belum tentu seorang pelanggan mengetahui adanya pengumuman tersebut, sebab tak semua orang memiliki akses terhadap media. Berbeda bila pengumuman itu disebarkan melalui Short Message Service kepada seluruh nomor pelanggan yang tercatat dalam database perusahaan, bukankah hampir setiap pelanggan PDAM menenteng telepon seluler?

Sungguh disayangkan pula, sebuah perusahaan daerah di kota yang gencar mensosialisasikan diri sebagai Smart City, namun surat tagihan pelanggan PDAM masih dilakukan dengan manual, dan pengumuman kondisi tak terduga hanya dilakukan melalui media massa. Sebuah ironi bagi kota yang mempunyai sistem komunikasi dan informasi berbiaya milyaran setiap tahun.

Sumber Gambar: Jakarta Piranti